Aku berlari sekuat tenagaku agar cepat sampai disekolah tepat waktunya. Hanya menghitung menit saja aku sudah terlambat masuk kelas. Tapi dijalan, mendadak perutku sakit. Maag yang kuderita selama bertahun-tahun akhirnya kambuh juga. Tanpa aku sadari penglihatanku mulai kabur, namun aku tetap nekad berlari dan terus berlari meskipun rasa sakit perutku sungguh sangat menyiksa.
Hanya tinggal beberapa langkah saja untuk masuk kegerbang pintu sekolah, nafasku seakan terhenti. Dadaku sulit bernafas. Perutku perih sekali. Akupun merintih kesakitan. Ingin sekali berteriak meminta pertolongan. Tapi mulutku kelu dan tak mampu berbicara. Akhirnya tubuhkupun terhempas ketanah karena tak sanggup menahan rasa sakitku.
“ Rasti… Ras… “ Terdengar seseorang memanggil namaku. Aku mulai membuka mataku perlahan. Mengangkat kelopak mataku yang sedikit berat. Kutatap sekelilingku. Pandanganku masih sedikit kabur. Namun lama-lama penglihatankupun mulai jelas. Kulihat banyak obat-obatan yang tertata dimeja dan di almari kecil dekat jendela. Kudapati juga tubuhku berada di tempat tidur yang ukurannya tidak begitu lebar dan panjang.
“ Ras.. Kamu nggak kenapa-kenapa kan?” Tanya seseorang yang berdiri didekat tempat tidur. Kupandangi lekat-lekat wajah tak asing itu. “ Santi?? ” ucapku lirih saat melihat sahabat karibku sudah berada disampingku dengan seutas senyuman hangat saat memandangku.
“ Aku kenapa san?” tanyaku padanya.
“ Tadi kamu pingsan dijalan. Kata pak satpam, tadi ada seseorang yang menolongmu membawa kemari. Tapi aku nggak tahu siapa. Saat aku tanyakan nama orang itu pada pak satpam, beliau menggelengkan kepala “
“ Benarkah? Andai saja aku tahu siapa orang itu. Pasti aku akan mengucapkan banyak terimakasih padanya. Sayang sekali aku tidak mengetahuinya.”
“ Ya sudah ras.. Yang penting kamu tidak kenapa-kenapa. Aku khawatir tahu?”
“ Hehehe.. Maaf santi sayang.. Aku juga tidak menyangka kalau maag ku bakalan kambuh begitu saja. Mungkin karena aku juga lagi dapet, jadi rasa sakitnya makin menjadi. Nggak kuat deh akunya. Maaf ya?”. Akupun memeluk santi sahabatku dan mengucapkan kata maaf berkali-kali karena telah membuatnya hawatir.
Dua jam kemudian. Cuaca yang tadinya cerah tiba-tiba mendung. Saat itu sedang jam istirahat. Ketika hujan turun, hampir semua siswa berada didalam kelas karena tidak bisa pergi kemana-mana. Kecuali yang kutu buku- kutu buku sudah lain persoalannya. Mau cuaca terang atau nggak, tetap saja mereka berada didalam kelas dengan semua buku-bukunya. Membaca setiap baris yang tertulis. Dan memahami setiap kata yang tertera. Kalau aku setiap hari seperti itu, bisa-bisa otakku jebol karena tidak bisa menampung semua materi. Emang dasarnya aku pemalas kali ya kalau urusan belajar? Hehehe….
“ Hei ras!!” Sapa salah satu anak dari kelas lain. Dia mendekatiku dengan padangan yang aneh. Matanya seakan memperlihatkan sisi keseriusannya. Wajahnya yang putih karena bedak itu membuatnya terlihat menyeramkan. Apa jangan-jangan dia akan melabrakku atas kesalahan yang tidak pernah aku perbuat? Eh.. emang siapa dia? Kenal juga nggak? Ngaco’saja pikiranku ini. Tapi, kok dia tahu namaku? Apa aku sepopuler itu?? Hahahaha… Gubraaakkkk….
“ Emm.. a…ada apa ya memanggilku? “ Tanyaku tiba-tiba gugup saat dia sudah sangat dekat dihadapanku. Seperti sedang dipanggil oleh guru BP atau sedang dipanggil oleh preman-preman yang sering nongkrong ditepi jalan ketika aku lewat menuju halte.
“ Ada titipan buat lo.. Nih..!!” Tiba-tiba saja cewek aneh itu menyodorkan sebuah kotak kecil yang dibungkus rapi dengan kertas berwarna pink kesukaanku. Aku menatapnya dengan sedikit tertegun. Lalu kutatap juga cewek itu dengan pandangan yang mencurigakan.
“ Kenapa lo memandang gue seperti itu? Lo pikir itu kado dari gue? Gue masih normal kali! “ Tanpa aku bicarapun sepertinya dia bisa membaca pikiranku kalau aku memang mencurigainya, bahwa dia menyukaiku alias belok or tepatnya penyuka sesama jenis. Waduh!! Makin ngaco’ saja pikiranku.
“ Lalu? Ini dari siapa? “ Tanyaku penasaran.
“ Tadi ada seorang cowok nyamperin gue. Sepertinya dia tidak sekolah di SMA ini. Kalau dilihat dari seragamnya, dia sepertinya sekolah di SMA seberang.
“ SMA seberang? “ Mataku melotot. Antara percaya dan nggak percaya. SMA seberang itu kan SMA yang cukup terkenal dan beken karena banyak cowok and cewek yang cakep-cakep abis. Mana anak-anak disana juga jenius-jenius banget. Apa aku sedang mimpi ya mendapatkan kado dari seseorang yang bersekolah di SMA terbeken dikota ini? Rasanya ini mimpi yang sangat indah. Tapi bagaimana ada yang mengenalku? Benar-benar penasaran.
“ Hello!! Bengong aja lo. Karena urusan gue sama lo udah kelar, Gue mau cabut dari sini.” Cewek itupun akhirnya menghilang dari pandanganku. Mulutku komat-kamit menirukan gaya dia yang so’ banget gitu. Ala-ala anak Alay.. hahay… lalu tak kuhiraukan lagi cewek itu.
**
Kupandangi kotak kecil yang terbungkus rapi itu dimeja belajarku. Hatiku masih penasaran sama siapa yang memberikan kado kecil itu untukku. Dan rasa penasaran itu juga menyalur ke isi kotak kecil itu. Kalung kah? Cincin kah? Gelangkah? Or aksesories-aksesories lainnya yang aku suka? Atau..
“Ahh.. Dari pada aku penasaran begini lebih baik kubuka saja kadonya.” Tanpa basa-basi lagi. Langsung saja bungkus kado berwarna pink indah itu aku sobek perlahan. Dan didalamnya terdapat sebuah kotak kecil yang terbuat dari kayu dengan sedikit ukiran bunga kecil ditengahnya. Tutup kotak itu aku buka pelan-pelan. Dengan perasaan was-was, kulihat isi didalam kotak itu. Sebuah boneka kecil yang dibuat dari potongan-potongan kain dengan corak warna yang indah dan mampu membuat mataku terbelalak sampai segedhe biji duren sedang tersenyum manis seakan menatapku. Benar-benar Imut banget. Kalau boneka itu hidup ingin sekali aku menciumnya, hahaha lebay.
Ku ambil boneka lucu itu dan kutatap dengan perasaan kagum. Siapa orang yang bisa membuat boneka kecil seimut ini? Boneka ini bahkan lebih imut dari boneka yang pernah diberikan mantan-mantan pacarku dulu.
“ Siapa yang membuatmu boneka imut?” Tanyaku pada boneka itu seakan boneka itu mampu menyahutnya.
**
Seperti biasa setelah pulang sekolah aku pasti kehalte buat nungguin bis yang mengantarkanku kedaerah tempat tinggalku. Kali ini bis yang biasa aku tumpangi nggak nongol-nongol juga. Sudah sejam aku nungguin sampai jenggotan rasanya. Benar-benar ngebete-in buat hari ini. Ku rogoh tasku dan kuambil kotak kecil yang diberikan cowok misterius itu. Kulihat-lihat lagi kotak yang menyimpan berjuta pertanyaan tak terkira dalam benakku.
Tanpa kuduga, hujan plus petir menyerang bumi secara mendadak. Beberapa orang yang sedang berjalan menuju halte langsung panik dan berlari mencari tempat berteduh. Sepertinya hari ini hujan akan jatuh lebih deras dari hari kemarin.
“ Hufht.. Aku nggak bawa payung. Bagaimana ini? Kenapa Bisnya juga nggak muncul-muncul sih? Oh MY GOD.. Tolonglah hambamu ini.., “ Akupun memasang muka cemas. Berharap hujan cepat reda dan bis yang aku tunggu-tunggu segera datang.
Entah mendapat anugrah atau hanya kebetulan saja, ketika aku sedang panik-paniknya, datanglah seorang cowok dengan seragam biru tua dan celana putih mirip dengan seragam sekolah SMA seberang. Dia menabrakku!
Mataku terbelalak kaget. Alamak… Ghanteng banget. Hatiku langsung bernyanyi riang. Wajahkupun tak kalah berserinya hingga terlihat sekali jika aku mengaguminya. Dan perasaan nervous itu tiba-tiba saja muncul ketika dia mengucapkan kata maaf dengan halusnya.
“ Maaf nggak sengaja.. “ Ujar cowok itu sambil tersenyum manis. Aku bagaikan disambar petir dengan sekejab aku terhipnotis oleh senyumannya itu.
“ I.. iya.. Nggak apa-apa..” Jawabku malu-malu meong.
Ya ampun! Badanku jadi kaku kaya’ patung. Sendi-sendi pertulanganku tak bisa bergerak sama sekali. Melihat dia dari jarak yang cukup dekat membuatku seakan tak mau jauh-jauh darinya.
“ Kamu kenapa?” Tanyanya mengagetkanku. Aku langsung ambil posisi santai agar tidak ketahuan kalau dari tadi aku memperhatikannya.
“ Emm.. nggak kenapa-kenapa.. hehehe..” Jawabku dengan cengengas-cengenges.
“ Itu kotak apa? “ Tanyanya kemudian setelah melihat sebuah kotak tergenggam ditanganku.
“ Oh ini.. Ini bukan apa-apa kok. “ Jawabku nggak serius. Kulihat dia menatap kotak kecil ini dengan tatapan penuh makna. Seperti seseorang cowok yang sedang menatap ceweknya dengan penuh cinta dan kasih. Halah.. lebay lagi. Otakku langsung berputar begitu cepat setelah melihat reaksi cowok itu menatap kotak kecil ini. Apa jangan-jangan dia lagi yang ngasih kotak kecil ini ke aku? Dari seragamnya, memang benar ini seragam SMA seberang. Dari cara dia menatap kotak ini juga kaya’ ada sesuatu yang tersembunyi. Tapi kalau dilihat dari tampangnya, kaya’nya nggak mungkin banget. Masa’ cowok sekeren dia ngasih kado ke aku? Apalagi aku dan dia kan nggak saling kenal. Hemmpt…
Makin lama otakku makin ngawur aja memikirkan siapa pemilik kotak ini. Apa nggak usah aku pedulikan saja orang yang ngasih kotak kecil dengan boneka imut ini? Daripada aku penasaran terus. Bisa-bisa aku mati penasaran lagi. Nggak lucu kan?
“ oh ya.. ngomong-ngomong, kenapa kamu belum pulang dan masih dihalte?” Tanya cowok itu lagi.
“ Dari tadi nungguin bis nggak ada. Biasanya juga hanya menunggu beberapa menit udah langsung datang bisnya. Ini udah sejam belum ada yang muncul. Aneh.” Jawabku sambil sedikit memanyunkan bibirku.
Cowok asing itu tersenyum kecil dan memandangku. Pandangnnya itu loh bikin remuk jantungku, hahaha.. Sungguh membuatku tidak berkutik.
“ Takdir..” ucapnya singkat, padat, dan jelas. Aku sedikit terperanjat mendengar ucapannya yang tidak disangka-sangka itu.
“ Takdir? Maksudnya?” Aku masih linglung. Nggak langsung nangkep apa yang dia maksud. Bukan berarti oon loh ya?
“ Bukankah namanya takdir kalau bis yang biasanya lewat dari tadi nggak lewat-lewat. Dan bukankah takdir juga jika bukan karena bis itu nggak lewat, kita nggak bisa bertemu bukan? Hehe..”
Cowok itu benar-benar terus terang banget. Takdir? Menurutku semua ini hanya kebetulan saja. Tapi apakah benar yang dia katakan bahwa pertemuan kita berdua pun merupakan takdir?
“ Sepertinya bis yang harus aku naiki sudah datang.” Kataku sembari mendekat ketepi.
“ Sebelum kamu pergi, bolehkah aku tahu siapa namamu?” Tanyanya lembut. Apa yang dia katakan apakah hanya gurauan semata? Atau dia hanya iseng-iseng saja? Atau justru ini semua hanyalah mimpi? Cowok keren dan aku jamin dia pasti yang terkeren disekolahnya, menanyakan siapa namaku? Tidakkah itu terlalu cepat untuk dua orang yang baru saja ketemu? Tapi bukankah begitu kalau memang ingin berkenalan? Menanyakan nama terlebih dahulu.
Jantungku dag..dig..dug..derrrr…!! Perasaan bahagia yang tiada terkira telah membuatku bungkam dan tak bisa menjawab pertanyaanya.
“ Hallo… Apakah kamu baik-baik saja?”
Aku langsung terperanjat ketika sebuah bis memencet klaksonnya dan menimbulkan suara yang amat sangat menyakitkan telinga. Aku melangkahkan kakiku dan naik kebis itu. Sebelum bis itu melaju, akupun memberitahu siapa namaku.
“ Panggil saja aku Rasti!” Kemudian aku masuk kedalam bis dan duduk dipojok kiri, tepat dimana cowok itu berdiri disampingluar jendela yang aku duduki.
Aku menatap cowok itu lekat dan diapun menatapku sambil melambaikan tangannya mengantarkan kepergianku.
“ Sampai jumpa! Semoga kita bertemu kembali, Rasti!!” teriak dia hingga terdengar beberapa meter dari bis setelah bis melaju meninggalkan halte.
Rasanya masih terdengar ucapannya saat dia memanggil namaku. Dadaku berdesir karena bahagia. Apakah aku akan bertemu lagi dengan cowok itu? Jika memang semua yang terjadi hari ini adalah takdir, maka kitapun akan dipertemukan kembali karena takdir. Aku yakin itu. Ditempat yang sama tanpa harus kita berdua rencanakan. Tapi kok aku bodoh banget ya? Kenapa tadi aku juga nggak balik tanya siapa nama dia?? Dasar.. Oneng..!
**
Seminggu sudah aku mencari tahu siapa yang ngasih kado kotak kecil ini untukku. Tak kutemukan juga orangnya. Bahkan selama itu pula aku tak berjumpa lagi dengan cowok ghanteng yang kebetulan bertemu denganku dihalte.
“ Kemana juga cowok ghanteng itu ya? Sudah seminggu ini kita tidak bertemu. Apa sebenarnya pertemuan itu hanyalah kebetulan semata?”
Aku masih terngiang-ngiang ketika dia memanggil namaku. Dan senyumannya itu masih sangat melekat diingatanku. Aku benar-benar berharap jika aku dipertemukan kembali olehnya.
“ Woiii!!!!! “ Teriak santi mengagetkanku.
“ Santi??!! Kaget tau??! “ Ucapku kesal. Santi hanya meringis aja melihatku cemberut. Lalu dia meminta maaf karena takut aku benar-benar marah padanya.
“ Maaf deh ras.. Aku Cuma heran aja sama kamu..”
“ Heran kenapa?” Tanyaku sambil memainkan handphone ditanganku.
“ Ya heran aja melihatmu bengong melulu akhir-akhir ini.”
“ Hemppt.,,, Tak tahulah san. Aku sendiri sedang bingung memikirkan suatu hal yang gak jelas.” Jelasku malas-malasan.
“ Mikirin apa? Apa soal kotak kecil yang pernah kamu ceritakan padaku itu?”
“ Heem..” Aku mengangguk.
“ Ya ela ras.. Sudahlah. Aku yakin orang itu hanya iseng saja sama kamu. Kalau memang beneran dia menyukaimu atau paling nggak sekedar mengagumimu, dia pasti menampakkan diri kok. Atau jangan-jangan dia cowok jadi-jadian lagi. Makanya nggak mau nampakin diri karena malu. Hahahaha… “ Canda santi membuatku nyengir.
“ Kamu jangan ngaco’deh san. Ya aku tuh benar-benar penasaran tahu dengan apa yang terjadi padaku selama ini? Pertama, tentang cowok yang menolongku dan membawaku ke UKS. Kedua, tentang cowok yang ngasih kotak ini. Dan ketiga, tentang cowok yang kebetulan bertemu denganku di Halte. Dan ketiga-tiganya itu menghilang dalam waktu yang bersamaan.”
“ Kalau aku pikir-pkir ya ras. Sepertinya cowok dihalte itu deh orang yang ngasih kotak ini. Kalau memang bukan dia., Kenapa sampai saat ini kalian belum juga bertemu. Pdahal udah jelas juga dia siswa dari SMA seberang kan? SMA situ kan sangat dekat dengan SMA kita ini. Terus nih ya, sampai saat ini pun kamu belum menemukan orang yang ngasih kotak ini kan?” Ungkap santi seakan mencurigai cowok ghanteng dihalte itu sebagai pelakunya. Kaya’ penjahat aja.
“ Itu juga yang aku pikirkan san. Aku juga berharap cowok itu yang ngasih kotak ini. Tapi aku nggak tahu sekarang dia dimana. Bingung aku jadinya. Benar-benar bisa mati penasaran nih aku kalau kaya’ gini.”
“ Ya sudah ras. Kamu jangan terlalu mikirin hal ini. Kalau memang takdir kalian bertemu, pasti bertemu. Dan siapa pemilik kotak ini pun akan terungkap seiring berjalannya waktu.”
“ Iya san.. Aku harap juga begitu.”
Kutatap langit-langit kelas yang sudah mulai retak. Sepertinya kelas ini butuh direnovasi. Hufht.. Apa hubungannya renovasi kelas dengan perasaanku?Aneh..
Akhirnya waktunya untuk pulang. Aku ingin sekali merebahkan tubuhku dikasur empukku sambil memeluk guling kesayanganku.
“ Ras.. Aku tidak bisa pulang bareng kamu lagi. Gak apa-apa kan?” Ucap santi padaku. Dia terlihat merasa bersalah karena sudah dua kali ini dia tidak bisa pulang bareng aku. Pdahal kita sejalur.
“ Iya tidak apa-apa san.. Tenang aja “ Jawabku santai.
“ Oke deh.. Aku pergi dulu ya? Sampai jumpa besok rasti sayang..! “
“ Sampai jumpa besok.. “ Sahutku lemas.
Hari ini suasana hatiku sedang tidak nyaman. Tubuhku lagi-lagi terasa lemas. Kali ini bukan karena maagku. Mungkin karena aku terlalu capek karena akhir-akhir ini sering bergadang gara-gara memikirkan cowok misterius itu.
Aku berjalan menuju halte dengan langkah terseret-seret. Aku merasa sangat haus. Dan perutku sangat lapar. Gara-gara aku lupa tidak sarapan.Jadi tubuhku benar-benar lemas. Mana toko dekat halte yang biasanya buka hari ini tutup. Aku sendiri tidak punya persediaan air minum yang sengaja aku bawa buat jaga-jaga kalau aku haus.
“ Mana sih bis nya?” Aku menoleh kekanan berharap bis jurusan daerahku cepat datang. Tapi masih belum ada tanda-tanda nongol dari kejauhan. Kok tumben banget hari ini halte sepi. Biasanya disini sangat ramai seperti pasar kliwon. Atau pasar burung dekat rumahku.
Setengah jam menunggu ternyata masih belum nongol juga bisnya. Apa jangan-jangan kejadian seminggu yang lalu terulang kembali? Menunggu bis lama dan akhirnya aku bertemu dengan cowok ghanteng itu? Apakah harus begini jika ingin bertemu dengannya? Rela menunggu lama untuk bisa melihatnya?
Ternyata dugaanku benar. Setelah beberapa menit kemudian, cowok ghanteng itu tiba-tiba saja sudah ada disampingku tanpa aku ketahui. Aku terperanjat kaget dibuatnya. Jantungku berdetak jauh lebih kencang dari saat pertama kali kita bertemu.
“ Ka.. Kamu??! Kapan kamu sudah ada disampingku?”
Cowok itu tersenyum lepas dan duduk disebelahku. Kemudian dia menatap tanganku dengan seksama. Seperti sedang mencari sesuatu.
“ Aku baru saja kok tiba disini. Melihatmu melamun, Aku tak ingin mengagetkanmu. Jadi aku tetap diam meskipun aku sudah ada disampingmu. “ Jelas cowok itu santai. Penjelasan yang cukup masuk akal sih. Tapi tetap saja aku dibuat kaget olehnya.Untung saja aku nggak punya penyakit jantung. Jadi aku nggak harus mati karena kaget dibuatnya.
“ Oh gitu…” Sahutku singkat.
“ Oh iya.. Kotak yang kemarin itu dimana?” Tiba-tiba saja dia menanyakan kotak yang diberikan cowok misterius itu padaku.
“ Kotak?? Kotak itu ada ditas. Memangnya kenapa? Kok kamu tnyain soal kotak itu?” Aku jadi penasaran. Sebenarnya siapa cowok ini?
“ Emm.. Nggak apa-apa kok. Aku Cuma penasaran saja. Siapa pemilik kotak sebagus itu. Sepertinya aku pernah melihat kotak seperti itu.”
Mendengar penjelasan cowok ghanteng itu, Mataku tak henti-hentinya mendelik alias melotot 5 cm lebih besar dari biasanya. Sampai nyaris copot.
“ Benarkah? Kamu lihat dimana?” Tanyaku makin penasaran.
“ Aku lihat disekolahku.”
“ Di.. Disekolahmu? Siapa yang mempunyai kotak seperti ini? Dan dia cewek apa cowok?” Karena rasa penasaranku makin bertambah. Ku lontarkan beberapa pertanyaan padanya. Diapun menjawab dengan tidak ada beban sama sekali.
“ Dia cowok. Seseorang yang sangat pendiam dan suka menyendiri. Cowok itu bahkan jarang sekali keluar. Boro-boro keluar sini. Pulang sekolah saja dia slalu dijemput oleh sopirnya. Tapi dengar-dengar, semenjak dia sering melihat cewek yang sekolah diSMA cempaka, yang tak lain dan tak bukan adalah SMAmu sendiri, dia sedikit berubah. Bahkan dia sudah mulai berani keluar sekolah tanpa harus merasa sungkan dan malu lagi. Apalgi semenjak dia menolong seorang cewek yang pingsan ditengah jalan saat berangkat sekolah.”
“ Apa?! Lalu kemana cowok itu sekarang? Aku ingin sekali bertemu dengannya.”
Wajahku sangat pucat. Aku nggak nyangka ternyata cowok misterius itu satu sekolah dengan cowok ghanteng yang ada dihadapanku saat ini.
“ Dia sudah pulang. Memangnya kenapa ras? Kok kamu pengen banget ketemu sama dia? “
“ Karena cewek yang pingsan itu adalah aku. Dan sudah beberapa hari ini aku mencari tahu siapa pemilik kotak ini. Tapi tak juga ketemu. Aku ingin sekali berterimakasih sama cowok yang telah menolongku saat aku pingsan. Ternyata dia yang memberikan aku kotak kecil ini?”
“ Suatu saat kamu pasti bertemu dengannya. “
“ Apakah itu akan terjadi?” Aku menatap lekat mata cowok ghanteng itu. Tapi lama-lama penglihatanku kabur. Kepala berputar-putar. Aku tidak kuat lagi menahan rasa sakit dikepalaku. Bibirku juga sudah tak mampu lagi berkata-kata. Setelah itu gelap. Aku pingsan.
Beberapa saat kemudian. Aku merasakan kehangatan sinar cahaya dari balik tirai yang menyilaukan mataku saat aku terbangun. Kepalaku masih pening sekali. Ku pegang kepalaku kuat-kuat supaya rasa sakitnya tidak terasa olehku.
“ Aku ada dimana?” Batinku setelah melihat kamar yang aku tempati sata ini ternyata bukanlah kamarku. Kamar ini begitu luas. Terdapat lukisan wanita cantik dengan ukuran yang lumayan besar didinding. Berhadapan dengan jendela yang letaknya tak cukup jauh dari meja belajar. Disampingnya terdapat sebuah lemari besar berwarna coklat tua. Benar-benar kamar ini jauh lebih luas dari kamarku.
Aku berdiri melihat-lihat isi kamar ini. Tanpa sengaja aku menjatuhkan sebuah foto yang difigura yang diletakkan dimeja belajar. Saat ku amat-amati lebih detail lagi, foto itu ternyata fotonya si ghanteng. Jadi, kamar ini kamarnya sighanteng itu? Bagaimana bisa aku berada dirumahnya? Apalagi dikamarnya? Semoga tidak terjadi apa-apa, batinku takut.
“kreekkkk…. “ terdengar suara pintu terbuka. Aku cukup kaget mendengarnya. Langsung saja kuletakkan foto itu dan kubalikkan badanku kearah pintu.
“ Kamu sudah sadar ras?” Tanya cowok ghanteng itu dengan ramahnya.
“ Hemm.. i..iya…” Jawabku gagap.
“ Gimana keadaanmu sekarang?”
“ Sebelumnya aku mau tanya. Apa yang terjadi padaku? Dan kenapa aku bisa sampai dirumah ini?”
“ Kamu pingsan kemarin saat kita berada dihalte. Karena aku tidak tahu rumah kamu, jadi aku bawa saja kamu kerumahku. Tenang saja, aku tidak apa-apain kamu kok. Dari tadi kamu nggak sadar-sadar. Jadi aku nungguin kamu sadar dulu buat ngasih kamu bubur buatanku ini. “ jelas cowok ghanteg itu dengan detailnya.
“ Kemarin? Jangan bilang kalau aku berada dirumah kamu seharian.. dan aku baru sadar sekarang?”
“ ya.. memang begitulah kenyataanya. Kamu pingsan kaya’ orang koma aja. Aku coba bangunin kamu. Coba sadarkan kamu, tapi kamu nggak sadar-sadar juga. Ya sudah aku biarkan kamu buat istirahat dikamarku.”
“ Jadi…. Ya Ampun…. Ada apa sih denganku?” Aku menampakkan wajah sedihku. Malu, dan nggak nyangka kalau aku bisa pingsan selama itu. Kenapa akhir-akhir ini aku harus mengalami kejadian aneh? Pikirku bingung.
“ Ya sudah ras. Lebih baik kamu makan bubur dulu. “ pinta cowok itu padaku. Aku sedang nggak punya nafsu makan sekarang.
“ Aku ingin pulang… “ Ucapku lirih.
“ Apa?!”
“ Aku ingin pulang….” Ucapku lagi memperjelas.
“ Iya nanti aku antar pulang. Sekarang kamu makan dulu..”
“ Aku sedang tidak berselera makan. Aku mau pulang. Hanya itu yang aku inginkan sekarang.”
“ Ya sudah kalau memang itu yang kamu inginkan.. Aku akn antarkan kamu pulang sekarang. “
Aku hanya diam saja menanggapi cowok ghanteng itu. Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Apakah aku sedang bermimpi? Apakah ini semua mimpi? Ya ALLAH.. bisakah ENGKAU membantuku menjawabnya?
Cowok itu mengantarku menggunakan sepeda motornya. Aku mencoba berpegangan kuat pada kaosnya. Tapi dia tiba-tiba ngerem mendadak sehingga membuatku memeluk tubuhnya. Sumpah malunya bukan main. Apakh dia memang niat melakukan itu supaya aku memeluknya?
“ Pegangan yang erat.” Ucapnya lirih. Aku hanya tersneyum saja .
Saat kita berdua sampai jalan perempatan kearah rumahku, tiba-tiba saja aku melihat sebuah cahaya melintas dan sangat menyilaukan mataku. Sehingga aku tak mampu melihat apa-apa lagi. Semuanya serba putih. Aku berteriak-teriak memanggil-manggil cowok ghanteng itu. Tapi tak ada sahutan sama sekali. Aku merasa aku sudah tidak berboncengan dengannya lagi. Tanganku juga sudah tidak memeluk tubuhnya lagi. Apa yang terjadi?
“ Ras.. Rasti !!!” terdengar suara cewek memanggilku. Aku berusaha membuka mataku. Pelan-pelan mataku mulai terbuka. Ku kedip-kedipkan mataku agar pandanganku tidak kabur. Pertama ku tatap langit-langit. Lalu kuputarkan kepalaku kesamping kiri. Terlihat ayah dan ibuku yang sedang tidur disebuah kursi panjang didekat ranjang yang aku tempati. Lalu kuputarkan kesamping kanan. Santi sahabatku sedang tersenyum melihatku sambil menitikkan airmata. Terlihat sekali kalau dia sedang merasakan kebahagiaan yang tak terkira.
“ San..Santi..” Ucapku terbata-bata.
Santi langsung memelukku erat. Lalu dia melepaskan pelukanku sambil berteriak memanggil ayah dan ibu dan bilang kalau aku sudah sadar. Karena suara santi lumayan keras, ayah dan ibupun terbangun dari tidurnya.
“ Rasti??!! Yah.. Rasti sudah sadar yah..”! Ucap ibu girang saat melihatku melek dan tersenyum padanya.
“ Kami menghawatirkanmu nak.. “ ucap ayah sambil mencium keningku.
“ Aku kenapa? Aku dimana? “ Karena aku masih tidak mengerti, akupun langsung menanyakan hal itu pda mereka.
“ Kamu mengalami kecelakaan sayang. Sudah sebulan lebih kamu koma. Sekarang kamu sedang berada di rumah sakit. Kami sangat menghawatirkanmu, nak. Kami takut kalau kamu tidak bisa bangun lagi. Ini sungguh keajaiban. Kamu sekarang sudah sadar. “Jelas ibu dengan bahagianya.
“ Ke.. kecelakaan? “ Aku linglung. Kapan aku kecelakaan? Kenpa aku nggak pernah merasa kalau aku kecelakaan? Padahal selama ini aku baik-baik saja. Masih menjalani aktivitas seperti biasa. Bahkan terahir aku masih bertemu dengan cowok ghanteng itu.
“ San… Tolong jelaskan padaku. Apa yang sesungguhnya terjadi padaku? Bagaimana bisa aku kecelakaan ? Kapan itu terjadi? Terakhir kemarin aku bersama cowok ghanteng itu saat aku mau pulang. Kenapa sekarang tiba-tiba aku disini?” Aku menatap mata santi dengan penuh tanda tanya. Berharap santi mau menceritakannya kepadaku.
“ Cowok Ghanteng? Maksudmu pieter?” santi balik tanya.
“ Pieter? Pieter siapa san?”
Mendengar jawabanku barusan, santi dan kedua orangtuaku seakan heran. Aku masih tetap tidak mengerti sampai detik ini. Hingga akhirnya santipun angkat bicara.
“ Sebenarnya….” Santi menelan ludah. Kemudian dia melanjutkan kembali kata-katanya. “ Sebenarnya.. kecelakaan itu terjadi saat kamu bersama cowok ghanteng itu. Cowok yang tak lain adalah kekasihmu sendiri ras, Pieter. Dan itu ketika kalian sedang dalam perjalanan kerumahmu, seperti yang kamu katakan tadi.” Jelas santi pendek.
“ Pieter kekasihku ?” AKu sama sekali tidak ingat bahwa aku sudah punya kekasih. “Jadi.. Aku mengalami kecelakaan bersama cowok itu? Bersama kekasihku sendiri? Lalu.. Dimana dia sekarang?” Tanyaku cemas.
Santi menatap kedua orangtuaku terlebih dahulu sebelum dia menjawabnya.
“ Pieter.. Pieter sudah meninggal dua minggu yang lalu. Sehari sebelum dia meninggal, dia menitipkan sesuatu padaku.” Santi mengeluarkan sebuah kotak dengan bungkus warna pink yang sama dengan kotak kecil yang diberikan cowok misterius itu padaku .
“ Kotak kecil? Bukankah kotak ini sama dengan kotak pemberian cowok misterius itu?” Aku semakin tidak mengerti.
“ Cowok misterius? Maksud kamu siapa ras? Selama ini kamu belum pernah mendapatkan kotak kecil seperti ini.” Kata santi ikut-ikutan bingung.
“ Kamu lupa san? Kan waktu itu aku dikasih sebuah kotak seperti ini sama cowok misterius. Terus kita berdua seminggu lebih mencari tahu tentang siapa pemilik kotak itu. Tapi sampai sekarang belum juga menemukannya. Dan terakhir aku bersama cowok ghanteng itu. Cowok ghanteng yang tanpa sengaja bertemu denganku dihalte. Terus dia kasihtahu aku kalau ada salah satu cowok disekolahnya yang punya kotak seperti ini. Dan cowok itu juga yang menolongku ketika aku pingsan. Waktu itu kamu yang jagain aku diUKS sekolah san? Kenapa kamu bisa lupa?”
Kepalaku tiba-tiba ngrasain nyeri. Melihatku sedikit merintih, ayah dan ibu cepat-cepat memanggil dokter. Entah kenapa saat mendengar pieter meninggal, hatiku rasanya sakit sekali. Padahal yang aku ingat adalah cowok ghanteng itu. Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Siapa pieter? Dan apa hubungannya dengan cowok ghanteng itu? Lalu kotak kecil ini. Kenapa semuanya serba membingungkan? Ya TUHAN… Tolong jawab segala yang membingungkanku.
Setelah diberi obat tenang, akupun tertidur. Rasanya seperti mimpi. Aku hanya melihat sebuah cahaya masuk kedalam mataku. Lalu aku sudah tidak bisa melihat apa-apa lagi selain semua terlihat serba putih. Namun, ketika aku mencoba berjalan dan berjalan mencari jalan keluar , ada seorang laki-laki memanggil namaku.
“ Rasti… Rasti… “
Aku mencari arah suara itu. Dan tepat beberapa meter dari hadapanku, terlihat sosok cowok dnegan bdan tinggi, tegap, dan dengan rambut ala pasha ungu berdiri membelakangiku.
“ Ka.. Kamu siapa? “ Tanyaku padanya. Kemudian dia membalikkan badannya kearahku. Betapa kagetnya aku ketika yang kulihat adalah cowok ghanteng itu.
“ Ka.. Kamu?” Aku nyaris pingsan dibuatnya. Matanya terpancar kebahagiaan. Raut wajahnya jauh lebih cerah dibandingkan saat pertama aku bertemu dnegannya dihalte. Dan senyumannya itu masih sama seperti saat pertama kali dia tersenyum kepadaku.
“ Rasti…. “ Cowok itu tersenyum. “ Kau baik-baik saja?”
Aku mengangguk. Kemudian aku berjalan mendekatinya. Mencoba melihat dengan jelas wajahya yang putih pucat tapi cerah itu.
“ Kamu dimana? Kenapa saat aku mencarimu kamu tidak ada?” Aku bertanya seolah-olah aku mencemaskannya.
“ Jangan cemas rasti.. Aku bak-baik saja. Dan sekarang aku sedang berada ditempat yang tenang. Jaga diri baik-baik rasti.. Aku akan slalu ada didekatmu…”
“ Tapi… Memangnya kamu mau kemana?” Tanyaku lagi.
“ Aku tidak kemana-mana. Aku slalu ada disampingmu..” Jawabnya tenang.
Kemudian dia berjalan pergi meninggalkanku. Sebelum dia menghilang dari pandanganku, akupun memberikan pertanyaan padanya untuk yang terkahir kalinya. Pertanyaan yang selama ini menjadi rasa penasaranku akan siapa dia sebenarnya.
“ Tunggu!! Aku ingin bertanya padamu satu kali lagi.. Ku mohon!”
Diapun berhenti. Lalu menoleh kearahku. “ Katakan saja..” Ucapanya singkat.
“ Siapa namamu? “
Dia memandangku dengan sangat tajam. Namun pandangannya itu pandangan yang meneduhkan. Aku serasa berada disamping orang yang mencintaiku.
“ Pieter…”
“ Pi.. Pieter?” Apakah ini mimpi? Apakah semua ini mimpi? Cowok ghanteng itu pieter? Cowok yng selama ini membuatku penasaran adalah pieter? Apakah pieter kekasihku? Apakah Pieter…. Belum sempat aku memanggilnya kembali,lagi-lagi aku harus melihat cahaya yang tiba-tiba menerangi wajahku dan membuatku tidak bisa melihat apa-apa. Semuanya gelap.
**
Tiga hari kemudian, aku pulang dari rumahsakit. Dokter menyarankan aku agar aku dirawat dirumah saja karena kondisiku sekarang sudah jauh lebihbaik. Hanya menunggu ingatanku pulih saja. Kata santi, menurut penjelasan dokter, aku mengalami sedikit cedera dibagian otak, sehingga menyebabkan aku sedikit kehilangan memoriku, termasuk tidak mengingat nama kekasihku sendiri.
Selama masa perawatan dan pengembalian ingatanku, aku masih saja mencoba mengingat-ingat siapa pieter. Dan tentang cowok ghanteng yang terakhir masuk kedalam mimpiku mengaku sebagai pieter. Apakah mereka orang yang sama? Jika iya, kenapa aku tidak bisa mnegingatnya? Kenapa aku tidak mengenalnya? Kenapa bisa aku bersikap seperti itu kepada kekasihku sendiri?
“ Ras..” Santi menepuk pundakku saat aku melamun diteras rumah. Semenjak aku kecelakaan. Santi selalu dirumahku untuk membantu ibu merawatku. Dia benar-benar sahabat yang baik dan setia padaku. Entah apa yang harus aku lakukan untuk membayar kebaikannya. Sepertinya aku tidak bisa berbuat apa-apa selain berterimakasih dan menjadi sahabt terbaiknya.
“ Iya san..”
“ Kamu sedang apa?”
“ Aku… masih memikirkan semua yang terjadi padaku san. “
“ Soal kecelakaan, kotak, pieter dan cowok ghanteng yang kamu ceritakan itu?”
“ heem “ Aku mengangguk pelan.
“ Hemm… Apa yang kamu rasakan saat mendengar nama pieter?”
“ Aku merasa sangat aneh dan aneh. Padahal aku tidak mengingatnya sama sekali.”
“ Lalu, apa yang kamu rasakan sama cowok ghanteng itu?”
“ Sama saja san. Aneh.. “. Akupun mengehmbuskan nafasku. Hingga terdengar sekali udara yang keluar dari lubang hidungku. Mungkin santipun mendengarnya. “ Bolehkah aku bertanya lagi padamu san?”
“ tentu saja ras.. ..”
“ Bagaimana pieter itu? Seperti apa dia? Apakah selama ini hubungan kami benar-benar dekat? Seromantis apakah kita jika dikatakan sebagai pasangan kekasih? Lalu.. apakah aku juga mencintainya?”
Santi ikut-ikutan menghela nafas panjang. Karena aku mendengarnya dan melihatnya saat dia mengambil nafas secara mendadak. Kemudian dia mulai menceritakannya kepadaku.
“ Pieter adalah orang yang baik. Dia dulu adalah cowok yang sangat pemalu. Pdahal dia sekolah di SMA seberang yang dikenal dengan SMA favorite dan SMA yang beken banget. Siapapun yang berada disekolah itu pasti banyak yang ngefans, banyak yang menyukai, banyak juga yang sombong. Tapi Pieter tidak. Dia begitu lugunya sebagai seorang cowok. Padahal, dia cowok yang keren, ghanteng, dan idealis banget untuk dikatakan sebgai cowok perfect. Siapapun yang melihatnya pasti jatuh cinta padanya.”
“ Lalu bagaimana aku bisa mengenalnya?” Tanyaku memotong ceritanya.
“ Kalian dipertemukan saat dia melihatmu pingsan dijalan. Waktu itu kamu sedang berangkat menuju sekolah. Dia melihatmu dan menolongmu. Dia membawamu ke UKS sekolah kita. Setelah kejadian itu, Pieter jadi sering sekali berhenti didepan sekolah hanya untuk pulang bareng sama kamu dan ingin mengenalmu lebih dekat. Karena keberanian dia yang begitu antusiasnya ingin mengenalmu, kamupun lama-lama tertarik padanya dan jatuh cinta padanya.”
“ Bukankah dia pemalu?”
“ Iya.. dia sangat pemalu, itu sbelum dia bertemu denganmu.Kamulah yang membuatnya menjadi cowok yang berani dan tidk pemalu lagi. Dia pernah bilang padaku, bahwa baru pertama kali ini dia mencintai seorang wanita. Dan dulu dia selalu diam-diam memperhatikanmu saat dihalte menunggu bis untuk pulang.”
“ Lalu?”
“ Kemudian dihari ulang tahunmu yang ke 17, dia mnyatakan cintanya padamu didepan anak-anak dan kedua orangtuamu. Dengan tidak ada keraguan sama sekali, kamu menerimanya. Dan sejak saat itulah kalian menjadi pasangan kekasih. Kemanapun kalian pergi, kalian selalu bersama. Kalian bahkan mengalahkan pasangan William Kate. Menurt pandangan orang-orang yang melihatnya, seperti aku. Pieter sangat mencintaimu.Kamupun begitu. ”
Tanpa terasa tiba-tiba airmataku menetes. Kesedihan sangat Nampak diwajahku saat ini. Mungkin jika dilihat aku seperti orang yang kehilangan sesuatu yang sangat berharga tanpa aku tahu apa itu.
“ Ras.. Kamu tidak apa-apa?” Tanya santi cemas saat melihatku menangis.
“ Tidak san.. aku tidak apa-apa..”. Aku memandang santi. “ San.. Bisakah kamu perlihatkan foto-foto kami berdua? Aku ingin melihatnya. Ku mohon. Pasti ada kan ?”
“ Dikamarmu ada banyak ras. Kamu selalu menyimpan foto-foto kamu di laci meja belajarmu. Dan di Handphonemu pun banyak tersimpan foto-foto kalian berdua.”
“ Kalau begitu, antar aku kekamarku sekarang.”
Sampai dikamar, santi mengambilkan foto-fotoku bersama Pieter yang aku simpan dilaci meja belajarku. Kemudian dia mengambil HP ku dan memperlihatkan semua foto-foto kami berdua. Aku terperanjat melihat foto cowok yang berada disampingku.
“ Ini Pieter san?” Tanyaku.
“ Iya ras.. “
“ Jadi.. Cowok ghanteng dan Pieter itu adalah orang yang sama? Ya ALLAH.. bagaimana aku bias lupa sama pacar sendiri? Segitu parahnya aku?” Aku menangis. Menangis sejadi-jadinya. AKu tidak pernah membayangkan bahwa apa yang terjadi padaku selama ini hanyalah mimpi. Tentang cowok misterius itu, tentang cowok ghanteng itu, dan tentang guardian angel yang menolongku saat aku jatuh pingsan. Mereka adalah cowok yang sama dan yang tak lain dan tak bukan adalah pacarku sendiri, Pieter.
“ Rasti… “ Santi memelukku dan mengusap-usap kepalaku.
“ San… Kenapa aku jahat. Kenapa aku bisa tidak ingat dengan pacarku sendiri? San.., Selama aku koma, aku seakan sedang mejalani haru-hariku bersamanya. Dan kotak itu. Kotak kecil itu. Kotak yang didalamnya tersimpan sebuah boneka kecil dnegan corak warna yang indah. Boneka yang dengan sekali menatapnya aku langsung jatuh cinta. Apa arti semua ini san? Kenapa didalam bayanganku ketika aku koma, aku bahkan tidak tahu siapa Pieter. Yang aku tahu hanyalah cowok ghanteng itu? San… Aku ingin sekali bertemu dnegan Pieter. AKu ingin memeluknya. Dan ingin mintamaaf padanya. Karena didalam mimpikupun, aku tidak bisa mengenalinya..”
Melihatku menangis sesenggukan seperti itu, santi juga ikut meneteskan airmata. Dia seakan mengerti apa yang aku rasakan. Memang pahit rasanya. Mengalami kejadian yang aneh. Hilang ingatan, dan kehilangan orang yang kita cintai untuk selama-lamanya. Bahkan sampai saat terakhirnyapun aku tidak bisa mengingat namanya. Semuanya sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur, kayu sudah menjadi abu, dan espun sudah mencair. Apagunanya aku menyesal. Sementara yang aku sesali tidak akan pernah terjadi dan kembali lagi.
Setelah ingatanku pulih, aku sering mengunjungi makam Pieter untuk mendoakannya. Selalu menaburkan bunga untuknya dan membayangkan dia melihatku disana. Dnegan senyumannya yang indah, dengan senyumannya yang tidak pernah surut dalam ingatanku. Senyuman termanis yang pernah ada.
“ Pieter.. Maafkan aku… Aku berharap, dikehidupan mendatang, dikehidupan kedua, aku bisa bertemu dneganmu lagi. Dengan senyuman kebahagiaan seperti saat pertama kali kita bertemu dan saat terakhir aku melihatmu didalam mimpiku. Terimakasih atas segalanya. Cintamu dan cintaku untukmu, akn selalu tersimpan didalam hati. Pieter.. Selamat tinggal. Semoga kau selalau tersenyum dan bahagia disana. Disamping-NYA. Pieter.. Aku mencintaimu…”
***
