Minggu, 18 Desember 2011

LOVE IS YOU < Part III>

Dijakarta, aku juga membuka sebuah toko butik yang desainnya aku buat sendiri. Jesnita dan diaz juga membantuku untuk mengurus Butikku itu. Beberapa bulan terakhir ini, butikku juga terlihat rame. Banyak pengunjung yang menginginkan aku untuk jadi desainer bajunya. Ya karena keterbatasan waktu, dan karena aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku sebagai seorang penulis skenario, akupun meminta Jesnita dan Diaz untuk membantuku melayani pelanggan-pelanggan setiaku.
Satu tahun terakhir ini, aku cukup dekat dengan seorang laki-laki yang bersal dari sunda. Walaupun kedekatanku dengan dia hanya sebatas rekan kerja saja, namun nampaknya dia menginginkan lebih dariku. Hanya saja, aku masih belum bisa membuka hati untuk siapapun saat ini. Pikiranku masih tertuju pada satu nama, Ricko Yuswantoro.
Sampai saat ini kita belum juga berjumpa. Tapi, aku pernah mendengar dari jesnita bahwa Ricko sekarang menjadi seorang Penyanyi yang cukup dikenal di AUSTRALIA. iya.. Kepergian dia setelah lulus SMA ternyata kembali lagi ke AUSTRALIA dan meneruskan kuliahnya disana.
Sejak dulu, dia ingin sekali menjadi seorang penyanyi menyalurkan bakatnya. Akhirnya , hobinya itupun tersalurkan juga. Aku cukup senang mendengarnya, meskipun aku gak tahu apakah itu semua benar.
" Kei..,, Sepertinya kamu harus pulang keSemarang deh." Ucap jesnita saat aku sedang sibuk membereskan bahan-bahan untuk kujadikan gaun pengantin pesanan dari Diaz.
Oh iya.. Nyaris lupa tentang Diaz. Dijakarta, Diaz menemukan pujaan hatinya bernama Rara. Mereka bertemu karena rara termasuk salah satu peanggan setia dibutikku karena mereka sering bertemu dan diaz yang sering membantuku untuk melayani butikku, jadi lama-lama mereka Cinlok deh.
Empat Bulan pacaran, Diaz melamar Rara. Dan Rarapun menerima Lamarannya. Bulan depan, mereka memutuskan untuk menikah. Aku disuruh menjadi desainer khusus untuk gaun pengantinnya. Senang sekali melihat mereka bahagia.
Tapi aku tidak tahu kenapa, jesnita menyuruhku untuk pulang.
" Memangnya kenapa jes? Kok aku harus pulang ke semarang?" Tanyaku bingung.
"  kamu tidak tahu kei?"
" Tahu kenapa?"
" Lebih baik kamu baca deh sms ini." Jesnitapun memberikanku ponselnya. 
" Sms dari mama?" Bisikku dalam hati. Lalu kubaca perlahan sms itu.
Jesnita, tolong kasihtahu Keila suruh pulang kesemarang sekarang. Karena nak Ricko mengalami kecelakaan yang cukup parah saat dia dalam perjalanan kerumah tante. Terimakasih jes.,
" Ricko??!! Astaghfirullahhaladzim... Ada apa dengan Ricko??"Akupun jatuh terkulai lemas setelah membaca sms dari mama.
Aku tidak menyangka jika Ricko akan kembali lagi ke Indonesia dalam waktu dekat ini. Bahkan sudah berada disemarang. Dan sekarang dia sedang sekarat.
Airmataku jatuh tak henti-hentinya membasahi pipi. Dadaku terasa sesak. Kali ini aku harus bisa meninggalkan pekerjaanku demi RICKO. Itu semua aku lakukan karena sekarang dia sedang butuh teman untuk menemaninya. Aku yakin kedua orangtuanya tidak ikut. Lalu siapa yang akan menjaga Ricko??
" Jes.. Aku minta tolong banget sama kamu. Tolong jagain butikku ya? Dan kasihtahu Diaz soal gaunnya. Aku belum bisa menyelesaikannya sekarang. Tolong kasih pengertian ke dia. Aku akn segera kembali kesini jes. Kali ini saja, ku mohon bantulah aku sekali lagi."
Melihatku seperti orang yang benar-benar stress.. Jesnita tak mungkin tega menolak permintaanku ini. Apalagi dia juga yang sudah menyuruhku untuk pulang.
Lalu jesnita memelukku erat. Dan menenagkan hatiku.
" Kei.. Aku yakin.. Ricko baik-baik saja. Kamu yang tenang. Sekarang, Sebelum kamu berangkat, Lebihbaik kamu tenangkan diri kamu sejenak. Setelah itu kamu berangkat kesana. Soal tiket pesawat , kamu gak usah pikirin. Tadi aku sudah beli tiketnya untuk kamu. Setelah baca sms dari mama kamu, aku kira kamu harus secepatnya ke semarang. Ku doakan semoga kamu selamat sampai sana ,kei. "
" Terimakasih jes.. Terimakasih atas bantuan kamu. Aku tidak tahu harus membalasnya dengan apa. Aku akn secepatnya kesini. Doakan aku ya jes.."
" Iya kei.. Sekarang cepatlah kamu kebandara. sebelum pesawatnya keburu berangkat.
" Hiks.... Makasih banget jes.. Aku menyayangimu sahabatku.." Akupun menangis terharu karenanya. Kupeluk erat sahabtku. Lalu dengan segera aku cepat-cepat memanggil taxi untuk mengantarkanku kebandara.
Setelah ku tinggalkan jesnita dan jakarta. Disepanjag perjalanan ke semarang, tak pernah lupa kupanjatkan doa untuk Ricko. Untuk keselamatannya. Aku berharap, ALLAH masih mengijinkanku untuk melihatnya dan memberikan kesempatan untuk dia masuk dalam hidupku lagi.
" Ricko... Semoga tidak ada yang harus kuhawatirkan. Aku begitu cemas memikirkanmu. Ku mohon... bertahanlah. Ijinkanlah aku melihatmu. Ku mohon ricko.." gumamku dalam hati. Airmata ini adalah simbol kesedihanku. simbol kecemasanku. Simbol bahwa aku masih menyanyanginya dan takut kehilangannya.
Aku yakin, Allah akan mengabulkan doaku untuk keselamatanmu. Tunggulah aku ricko.,, Tunggulah aku sampai aku benar-benar melihatmu sebagai Ricko yang baru dengan hati yang dulu.
***

Sabtu, 17 Desember 2011

LOVE IS YOU < PART II > --> YUNIKE SUNDARI

Ricko tengah asyik bernyanyi sambil memainkan gitar tercintanya didepan rumahnya yang dulu pernah ia singgahi sebelum akhrnya pindah ke Amerika.
Selidik punya selidik penyebab kembalinya dia ke Indonesia ternyata hanya ingin kembali menjalin cintanya bersamaku. Aku tahu karena Jesnita yang memberi tahuku setelah Ricko meminta bantuan padanya untuk membujukku agar aku mau memaafkan kesalahannya dulu dan mau menerimanya kembali.
Seiring berjalannya waktu, ricko selalu mencoba mendekatiku. Dengan berbagai cara supaya menarik hatiku dan membuatku jatuh cinta lagi padanya. Namun sungguh disayangkan, sepertinya hatiku sudah tertutup untuknya. 
Cara apapun yang dia lakukan. Perhatian apapun yang dia berikan padaku, tetap tidak mengubah sikap jutekku dan tak mampu membuatku jatuh hati padanya.
" Kei..,, Kamu kenapa sih?? Aku sudah melakukan cara apapun supaya kamu mau menerimaku kembali. Apa begitu besar keslahanku padamu hingga kau tak mau memaafkanku?" Kata Ricko dengan wajah memelas sambil memegang tanganku. Sebenarnya aku tidak tega melihatnya begitu. Tapi aku hanya ingin dia merasakan sakitnya hatiku yang dulu pernah dia lukai.
" Menurutmu??" Akupun melepaskan genggaman tangannya.
" Okey kei.. ku akui dulu aku telah salah menyakitimu. Tapi aku khilaf kei. Aku melakukan itu semua karena aku cemburu melihat kedekatan kamu dengan sahabatmu , Diaz. Kalian itu terlihat seperti sepasang kekasih. Aku cemburu! Akupun mencoba membuatmu merasakan seperti yang ku rasakan, yaitu membuatmu melihatku bersama cewek lain! Tapi sungguh aku tak menyangka jika kamu langsung memutuskan hubungan kita begitu saja. Apa aku salah kei??!"
Ricko pun menjelasakan kronologi yang sebenarnya. Mungkin cerita yang dia katkan masuk akal. Tapibagiku dia tetaplah penghianat. Aku juga kecewa karena ia ternyata tak mempercayaiku sebagai kekasihnya.
" Itu bukan alasan untuk menyakitiku rick. Justru kamu telah memberitahuku bahwa kamu tak benar-benar mencintaiku. Kamu tidak percaya padaku. Diaz adalah sahabat kecilku. Wajar kalau kedekatanku dengannya begitu erat. Tapi aku tidak pernah menyangka jika pikiranmu tentang aku dan dia begitu pendek. Aku bahkan tak mengerti kenapa kamu harus membalasku dengan bermesraan sama cewek lain dihadapanku. Apapun yang kamu katakan, tak cukup membuatku bisa memaafkanmu. Aku tak mau mengulang kisah yang sama dengan orang yang telah melukaiku. Kecuali jika sampai saat kita sama-sama dewasa, kamu telah menunjukkan bahwa kamu adalah ricko yang baru. Ricko yang bisa berfikir dewasa dan tidak ego lagi. dan ricko yang bisa menerima orang yang ricko cintai apa adanya. Jika kamu benar-benar menginginkanku untuk jadi kekasihmu, berikan aku waktu untuk melihatmu sebagai ricko yang baru, disaat kita sudah sama-sama dewasa untuk menjalin hubungan yang serius. Pikirkan baik-baik kata-kataku ricko. Aku harus pergi"
mendengarku berkata seperti itu, ricko tak mampu menanggapinya. Sepertinya dia sudah pasrah dengan apa yang aku katakan. Tapi aku percaya, jika dia benar-benar tulus mencintaiku, sampai waktunya tiba, dia akan kembali padaku dan tetap bertahan menjaga cintanya untukku.
" Semoga kamu tetap menjaga hatiku , Ricko..." bisikku dalam hati saat aku meninggalkan ricko ditempat pertama dulu kita jadian, yaitu Pantai Marina.
Jujur sejak kami berdua putus, aku sama sekali tidak terfikirkan untuk menjalin hubungan dengan cowok lagi. Karena didalam hatiku, masih terbesit nama dia. Mungkin memang waktu yang aku butuhkan untuk bisa melupakannya. Tapi.. aku sungguh tidak mengerti. Apakah ini termasuk takdir untukku? Mengirimkan dia kembali dalam hidupku, tanpa aku ketahui sebelumnya.
Perbincanganku tadi dengan ricko merupakan perbincangan yang terakhir. maksudku, kita berdua tetap bertemu dan ngobrol jika kita berada disekolah tau sedang membahas tugas dari sekolah. Karena kita berada dalam satu kelas. Namun, kita berdua tak pernah membicarakan perasaan kita masing-masing. Atau membicarakan hal yang pernah kita alami dimasa lalu.
Dia sedikit demi sedikit mulai menunjukkan keseriusannya untuk berubah. Dia memang siswa yang pintar dan banyak diidolakan disekolah. Tapi dia tidak pernah menanggapi cewek-cewek yang mencoba untuk mendekatinya. Dia juga tak memperlihatkan rasa cemburunya saat aku bersama diaz.
sesekali akupun tersenyum padanya. Sebagai tanda bahwa sedikit demi sedikit aku sudah memaafkannya. Diapun membalas senyumanku.
Dan semua itu berjalan hingga kita berdua LULUS dari SMA kita tercinta.
Sekolahkupun mengadakan acara perpisahan untuk pelepasan kami semua. Setelah acara selesai, Ricko mengajakku berbincang-bincang sebentar. 
" Kei.. Bisa kita bicara sebentar?" Bisik Ricko. Akupunmengiyakan ajakannya. Kita berdua keluar dari sekolah dan ricko mengajakku kembali ke Pantai Marina.
" Untuk apa kita kesini Ricko?" Tanyaku penasaran.
Ricko berjalan mendekati ombak dan seakan dia ingin bermain besama ombak itu. Dia kembali mendekatiku lagi. Dia menatap mataku Tajam dan melemparkan senyum padaku.
" Apakah kamu ingat kejadian pertama kali aku bertemu denganmu di tempat ini ,kei?" Tanyanya mengulas masa lalu.
" Ingat.. Memangnya kenapa?"
" Saat itu, aku melihatmu menangis. Aku kira kamu baru saja dihianati sama pacar kamu. Ternyata kamu menangis karena kamu kehilangan kalung kamu."
" Iya.. karena kalung itu berharga buatku.." Mataku melirik sinis. Tapi Ricko menanggapinya dengan bercanda.
" Hahahaha.. Iya..iya aku tahu. Kalung itu adalah pemberian dari almarhum ayah kamu kan?"
Rickopun duduk disebelahku dan memandang jauh pantai Marina hingga terfokus pada satu titik. Lalu dia melanjutkan kembali kata-katanya.
" Saat itu, baru pertama kali aku langsung jatuh cinta sama seorang cewek. Aku melihatmu begitu berbeda dengan cewek-cewek lain yang aku kenal. Aku melihat ketulusan dan kesederhanaan dari diri kamu. Makanya setelah beberapa hari mengenalmu, aku mengajakmu kesini dan mengutarakan isi hatiku. Dan kaupun menerimanya."
Wajah Ricko nampak bahagia ketika menceritakan kejadian itu dihadapannku. Mataku berlinang. ANtara senang dan sedih. Tapi, aku hanya diam dan menanggapi apapun.
" Apakah kamu tahu kei?? Hari itu adalah hari yang sangat indah untukku. Dimana aku bisa mencintaimu dan memiliki cintamu. Walaupun sekarang kenyataanya sudah berbeda."
" Lalu... Tujuan kamu membawaku kesini untuk apa?" Tanyaku kemudian.
" Aku hanya ingin mengenang masa indah bersamamu, disaat terakhir kita bertemu kei."
" Maksudmu?"
" Setelah ini.. kita sudah akn menjalani kehidupan masing-masing. Mungkin kita akan berjauhan lagi." Jawabnya tenang.
Tapi aku merasakan ada perasaan berat yang dia rasakan saat itu. Pundak yang biasanya terlihat tegap, sekarang terlihat sedikit menunduk. Aku mengerti perasaanya. Karena mungkin perasaan kita sama.
" Ya... Kita memang akan berjauhan lagi. Dan mungkin kita gak akan bertemu lagi." Begitulah tanggapanku ke dia. Sedikit sadis kali ya? Tapi, aku tak mau dia tahu apa yang aku rasakan.
" Tunggu sampai waktunya tiba,kei. Saat itu benar-benar terjadi, kamu akan bangga karena aku Mencintaimu."
Tiba-tiba Ricko mengucapkan kata-kata itu. Aku yang tadinya diam, jadi tersentuh setelah mendengar kata-katanya. I can't say anything. Aku hanya bisa tersenyum. Sedikit tetesan airmata membasahi pipiku. Tapi segera ku sapu dengan tanganku. sehingga ricko tak melihatnya.
" Baik kei.. Sepertinya sudah cukup pembicaraan kita. Terimakasih atas waktu yang sudah kau berikan untukku. Tetaplah jadi Kei yang aku kenal... Yah??" Ucap Ricko sambil tersenyum dan mengusap-usap kepalaku. Seperti yang sering dia lakukan dulu.
Dalam hatiku berkata. " Apakah ini kau Ricko? Apakah aku salah telah bersikap jutek padamu? ".
" Sekarang kita pulang. Sepertinya hari sudah mulai gelap." Kata Ricko lagi.
" Iya..." Jawabku singkat.
Kita berduapun akhirnya meninggalkan Pantai Marina. Hari ini, Ricko telah membuatku sedikit membuka hatiku untuknya. Dan hari ini pun adalah hari terakhir kita berdua bertemu. 
***
Jesnita, Diaz dan Aku memutuskan untuk mendaftar disalahsatu Universitas yang sama. Tapi dijakarta. Aku mengambil jurusan Sinematografi di IKJ < Institut Kesenian Jakarta>, Jesnita ambil jrusan Desain Grafis dan Diaz mengambil jurusan musik.
Kebetulan dijakarta aku punya keluarga yang memiliki kos-kosan dekat dengan kampusku. Jadi, aku memutuskan untuk memilih kuliah disana. Dan Alhamdulillah aku bisa diterima.
Namun aku tidak tahu kabar tentang Ricko. Mungkin setelah lulus SMA dia kembali lagi ke AUSTRALIA.
" Kei... Kamu kenapa?" Tanya jesnita saat melihatku termenung disebuah Resto dekat kos-kosan.
" Gak apa-apa kok jes. Oh iya, Diaz udah pulang belum dari kampus?"
" Sepertinya belum kei. Tapi aku ingin tanya sesuatu sama kamu kei."
" Tanya apa?"
" Aku mau kamu jujur sama aku. Apa kamu masih mencintai Ricko?"
Aku melirik kearah jesnita. Pertanyaan itu membuatku bingung.
" Kenapa kamu tanya begitu?"
" Aku hanya ingin tahu saja. Karena aku lihat, akhir-akhir ini kamu banyak melamun kei. Dan semenjak gak ada Ricko, sikap kamu juga berubah. Apakah kamu merindukannya?"
" Emmm..... Apa aku harus menjawabnya?"
" Terserah kamu saja kei..."
Akupun diam. Aku tidak tahu apa yang harus aku jawab. Untuk kali ini, aku belum bisa memastikan perasaanku. Apakah aku masih mencintai dan mengharapkannya atau tidak. Tapi ku akui, aku mulai merindukan kehadirannya lagi.
Yang masih teringat dalam benakku adalah, ketika dia tersenyum padaku. Ktika dia berusaha memberikan perhatian yang lebih seperti yang dulu dia berikan padaku. Dan ketika terakhir dia mengucapkan kalimat " Tunggu sampai waktunya tiba,kei. Saat itu benar-benar terjadi, kamu akan bangga karena aku Mencintaimu."
Kata-kata itu selalu menemaniku setiapku ingat dia. Aku tak akan pernah tahu kapan kami berdua bisa bertemu kembali.
" Kei??" Jesnita lagi-lagi memanggilku.
" Apa si jes?"
" Melamun mulu dweh.. Huh.. Dasar virus Ricko lagi pasti..." Ledek jesnita.
" Hahaha.. Gak lucu tahu jes... " Akupun nyengir menanggapi ledekan jesnita.
" Ya udah.. kita pulang aja yukk.. Aku capek. Mau istirahat dulu.." Ajak jesnita.
Setelah makan siang selesai, akupun beristirahat dengan tenang dikos-kosan baruku. Kos yang akan jadi tempat tinggalku sementra waktusampai aku selesai kuliah.
***
Jesnita adalah sahabat baikku disekolah. Ya.. kita sudah sangat akrab dari pertama kali kita masuk disekolah yang dibilang banyak orang cukup populer. Tapi menurutku biasa-biasa saja. Karena saking akrabnya aku dengan jesnita, akupun tak mau membuatnya kecewa dengan aku tak menuruti kemauannya.
Kami berduapun mengelilingi setiap distro, mall, dan tempat-tempat lain yang banyak menjual pakaian bermode ala tahun 2011. Aku sendiri kurang tahu apa nama model pakaiannya. Namanya juga aku kurang begitu suka dengan berbelanja dan tidak terlalu mengikuti mode-mode trend jaman sekarang.
Tapi banyak orang yang bilang kalau penampilanku sederhana tapi elegant. Haha.,, ya sah-sah saja.  Namanya juga pandangan orang kan berbeda-beda. Tapi aku mau jadi diri aku sendiri. Bukan mengikuti gaya siapa or siapa. 
" Kei.,,! " terdengar seseorang memanggilku.
Akupun memutar badanku dan mencari sumber suara yang memanggilku. Sangat terkejut, bukan terkejut lagi. Tapi bisa dibilang sangat membuatku enggan bicara sepatah katapun. Mataku sedikit melotot. Tidak percaya. Tapi ini  sungguh nyata dihadapanku.
" Ricko?? " Ucapku dalam hati. Seseorang yang pernah dan masuk dalam kehidupanku sebagai seseorang yang pernah sangat aku cintai. " Bagaimana bisa dia ada disini? Bukankah dia sudah pindah ke Australi?" Tanyaku dalam hati.
Akupun mencoba berpra-pura tidak melihatnya. Lalu kutarik tangan jesnita dan kubawa dia pergi dari distro langganannya.
" Ihh.. ada apa sih Kei?? Jangan cepet-Cepet dong jalannya! Aku pakai hight hiils nih! " Protes jesnita padaku.
" Copot tuh hight hillsmu. Harusnya kamu pakai sandal jepit biar bisa jalan cepat dan mengikuti langkahku!" Aku sedikit berteriak ke jesnita dan membuat dia sedikit sedih.
" Kamu kenapa sih key?" Tanyanya kembali setelah kita berdua berhenti disebuah resto.
Kulihat sekeliling berharap ricko tidak mengikutiku. Lalu kuhembuskan nafasku perlahan dan menjawab pertanyaan dari jesnita .
" Tadi aku lihat ricko jes??" Jawabku pelan.
" Ricko?  Mantan cowokmu itu? " 
" Yups...!! "
" Loh.. Bukankah dia pergi ke Ausie ya?"
" Aku juga gak tahu jes. Tadi ada yang memanggilku. Ternyata dia yang memamanggilku. Aku juga terkejut melihatnya ada didistro."
" Lalu kenapa kamu tidak menemuinya dan malah kabur kayak gini?"
" Yah.. Karena aku sudah tidak mau melihatnya lagi. Hatiku masih sakit jika teringat penghianatan yang sudah dia lakukan padaku. Aku tak mau masuk dalam kehidupannya lagi jes.. Kamu pasti ngerti perasaanku sekarang."
" Iya aku ngerti kei. Tapi apa gak sebaiknya kamu temui dulu dia. Walaupun dia mantanmu, bukan berarti silaturrahmi kalian putus kan?"
" Untuk saat ini biarkan aku menghindarinya dulu. Q tak mau mengingat hal2 yang telah lalu. Sebaiknya kita pesan makan dulu jes. Aku udah laper banget. Setelah ini kita pulang.."
" Okey deh kei."
Selagi jesnita memesan makan. Aku mencoba membuka handphoneku. Ada banyak pesan masuk ternyata. Dari sahabat kecilku si Diaz dan yang lainnya dari nomer-nomer baru yang selalu iseng menggangguku.
Saat kubaca satu persatu pesan itu, ada salah satu pesan yang membuatku bingung. Pesan itu berisi bahwa dia melihatku duduk berdua dengan jesnita disalah satu resto dekat mall disemarang. Kecurigaanku tentang sms itu adalah, ada seseorang yang sedang mengikutiku sekarang. 
Bulu kudukku tiba-tiba saja berdiri. Bukan karena takut diikuti oleh hantu. Tapi takut jika yang mengkuti adalah orang jahat dan suka menculik cewek-cewek remaja. Apalagi saat ini sedang banyak sekali kasus penculikan dimana-mana.
" Waduhh... Gawat nih!" Seruku pelan. Jesnita yang tadinya sedang asik memilih menu makanan jadi terfokus pandangannya kearahku.
" Ada apa kei??? Kok gawat?? "
Akupun langsung berdiri dan mengajak jes keluar dari resto. Kemudian aku menghentikan sebuah taxi yang kebetulan lewat didepn resto. Jes nampak bingung melihat tingkahku yang aneh. Dia pun bertanya lagi padaku.
" Kei..!! Kali ini ada apa lagi?? Ada Ricko lagi?"
Aku melirik kearah jes dengan muka manyun.
" Eh jes.,, Bisa gak sih gak usah bahas cowok itu? Kali ini lebih gawat dari itu."
" Memangnya ada apa ?"
" Gini.. Barusan aku baca sms dari seseorang. Dia bilang kalau dia melihat kita sedang berada diresto itu. Itu berarti dia sedang mengikuti kita jesnita??"
" Memangnya siapa yang sms kamu?"
" Ya maka dari itu aku gak tahu. Kalau yang sms aku ternyata orang jahat.,, apa kamu mau? Apalagi kalau ternyata dia itu penculik...!! Hiii Serem kali jes?"
Jesnitapun nyengir saja mendengarku berkata seperti itu. Lalu kita berdua saling diam sampai akhirnya kita berdua sampai dirumahku.
Dengan segera aku menarik jesnita masuk rumah dan langsung mengunci pintu rumah. Berharap tidak ada yang sms dan yang mengikutiku lagi.
" Kei!! Bajuku yang tadi aku beli dimana?" Tanya jesnita cemas.
" Lowh bukannya didalam tas itu?" Jawabku menunjuk kearah tas berwarna Merah Jambu.
" Bukan Keila??!! Bukan yang itu. Baju warna Hijau yang aku cobain tadi itu lowh?? "
" Kenapa kamu tanya ke aku? Kan kamu yang membawa barang2 belanjaanmu sendiri."
" Ya kali aja kamu tahu. Jangan-jangan ketinggalan lagi diresto!! Yah.. Keila!! Kamu sih asal narik tanganku aja tadi. Jadi ketinggalan kan?" Jesnita merasa sangat kecewa atas kehilangan baju barunya.
" Udah dweh jes gak usah lebay gitu. Beruntung kamu gak kehilangan Harta yang paling berharga dalam hidup kamu. Jika tadi yang mengikuti kita ternyata orang jahat. Kamu gak cuma akan kehilangan baju baru kamu. Tapi bisa juga perhiasan yang paling berharga yang kamu punya. Bahkan mungkin kamu  bisa kehilangan nyawa kamu. Kamu mau itu terjadi, hah?!" Aku menatap tajam jesnita dan membuatnya sedikit menunduk.
" Ya gak sih kei. Tapi.."
" Udah gak ada tapi-tapian. Okey besok kita kesana lagi dan cari baju yang mirip dnegan yang kamu beli itu. Biar kau yang bayarin. Sekarang aku mau istirahat."
Setelah banyak bincang dengan jesnita. Aku dan diapun akhirnya tidur terlelap. Melepas lelah yang kita berdua rasakan untuk hari ini.
                                                                          ***

LOVE IS YOU

Malam yang dingin begitu menusuk kulit ariku , membuatku enggan dan malas bepergian. Namun karena kesetiaanku pada sahabatku membuatku mengikuti keinginannya untuk mencari kesenangan dengan berbelanja. Sungguh hal yang tidak begitu aku sukai. Kecuali jika moodku sedang baik.

Jesnita adalah sahabat baikku disekolah. Ya.. kita sudah sangat akrab dari pertama kali kita masuk disekolah yang dibilang banyak orang cukup populer. Tapi menurutku biasa-biasa saja. Karena saking akrabnya aku dengan jesnita, akupun tak mau membuatnya kecewa dengan aku tak menuruti kemauannya.

Kami berduapun mengelilingi setiap distro, mall, dan tempat-tempat lain yang banyak menjual pakaian bermode ala tahun 2011. Aku sendiri kurang tahu apa nama model pakaiannya. Namanya juga aku kurang begitu suka dengan berbelanja dan tidak terlalu mengikuti mode-mode trend jaman sekarang.
Tapi banyak orang yang bilang kalau penampilanku sederhana tapi elegant. Haha.,, ya sah-sah saja.  Namanya juga pandangan orang kan berbeda-beda. Tapi aku mau jadi diri aku sendiri. Bukan mengikuti gaya siapa or siapa.

" Kei.,,! " terdengar seseorang memanggilku.
Akupun memutar badanku dan mencari sumber suara yang memanggilku. Sangat terkejut, bukan terkejut lagi. Tapi bisa dibilang sangat membuatku enggan bicara sepatah katapun. Mataku sedikit melotot. Tidak percaya. Tapi ini  sungguh nyata dihadapanku.

" Ricko?? " Ucapku dalam hati. Seseorang yang pernah dan masuk dalam kehidupanku sebagai seseorang yang pernah sangat aku cintai. " Bagaimana bisa dia ada disini? Bukankah dia sudah pindah ke Australi?" Tanyaku dalam hati.

Akupun mencoba berpra-pura tidak melihatnya. Lalu kutarik tangan jesnita dan kubawa dia pergi dari distro langganannya.

" Ihh.. ada apa sih Kei?? Jangan cepet-Cepet dong jalannya! Aku pakai hight hiils nih! " Protes jesnita padaku.
" Copot tuh hight hillsmu. Harusnya kamu pakai sandal jepit biar bisa jalan cepat dan mengikuti langkahku!" Aku sedikit berteriak ke jesnita dan membuat dia sedikit sedih.
" Kamu kenapa sih key?" Tanyanya kembali setelah kita berdua berhenti disebuah resto.
Kulihat sekeliling berharap ricko tidak mengikutiku. Lalu kuhembuskan nafasku perlahan dan menjawab pertanyaan dari jesnita .
" Tadi aku lihat ricko jes??" Jawabku pelan.
" Ricko?  Mantan cowokmu itu? " 
" Yups...!! "
" Loh.. Bukankah dia pergi ke Ausie ya?"
" Aku juga gak tahu jes. Tadi ada yang memanggilku. Ternyata dia yang memamanggilku. Aku juga terkejut melihatnya ada didistro."
" Lalu kenapa kamu tidak menemuinya dan malah kabur kayak gini?"
" Yah.. Karena aku sudah tidak mau melihatnya lagi. Hatiku masih sakit jika teringat penghianatan yang sudah dia lakukan padaku. Aku tak mau masuk dalam kehidupannya lagi jes.. Kamu pasti ngerti perasaanku sekarang."
" Iya aku ngerti kei. Tapi apa gak sebaiknya kamu temui dulu dia. Walaupun dia mantanmu, bukan berarti silaturrahmi kalian putus kan?"
" Untuk saat ini biarkan aku menghindarinya dulu. Q tak mau mengingat hal2 yang telah lalu. Sebaiknya kita pesan makan dulu jes. Aku udah laper banget. Setelah ini kita pulang.."
" Okey deh kei."

Selagi jesnita memesan makan. Aku mencoba membuka handphoneku. Ada banyak pesan masuk ternyata. Dari sahabat kecilku si Diaz dan yang lainnya dari nomer-nomer baru yang selalu iseng menggangguku.
Saat kubaca satu persatu pesan itu, ada salah satu pesan yang membuatku bingung. Pesan itu berisi bahwa dia melihatku duduk berdua dengan jesnita disalah satu resto dekat mall disemarang. Kecurigaanku tentang sms itu adalah, ada seseorang yang sedang mengikutiku sekarang.

Bulu kudukku tiba-tiba saja berdiri. Bukan karena takut diikuti oleh hantu. Tapi takut jika yang mengkuti adalah orang jahat dan suka menculik cewek-cewek remaja. Apalagi saat ini sedang banyak sekali kasus penculikan dimana-mana.

" Waduhh... Gawat nih!" Seruku pelan. Jesnita yang tadinya sedang asik memilih menu makanan jadi terfokus pandangannya kearahku.
" Ada apa kei??? Kok gawat?? "
Akupun langsung berdiri dan mengajak jes keluar dari resto. Kemudian aku menghentikan sebuah taxi yang kebetulan lewat didepn resto. Jes nampak bingung melihat tingkahku yang aneh. Dia pun bertanya lagi padaku.
" Kei..!! Kali ini ada apa lagi?? Ada Ricko lagi?"
Aku melirik kearah jes dengan muka manyun.
" Eh jes.,, Bisa gak sih gak usah bahas cowok itu? Kali ini lebih gawat dari itu."
" Memangnya ada apa ?"
" Gini.. Barusan aku baca sms dari seseorang. Dia bilang kalau dia melihat kita sedang berada diresto itu. Itu berarti dia sedang mengikuti kita jesnita??"
" Memangnya siapa yang sms kamu?"
" Ya maka dari itu aku gak tahu. Kalau yang sms aku ternyata orang jahat.,, apa kamu mau? Apalagi kalau ternyata dia itu penculik...!! Hiii Serem kali jes?"
Jesnitapun nyengir saja mendengarku berkata seperti itu. Lalu kita berdua saling diam sampai akhirnya kita berdua sampai dirumahku.

Dengan segera aku menarik jesnita masuk rumah dan langsung mengunci pintu rumah. Berharap tidak ada yang sms dan yang mengikutiku lagi.
" Kei!! Bajuku yang tadi aku beli dimana?" Tanya jesnita cemas.
" Lowh bukannya didalam tas itu?" Jawabku menunjuk kearah tas berwarna Merah Jambu.
" Bukan Keila??!! Bukan yang itu. Baju warna Hijau yang aku cobain tadi itu lowh?? "
" Kenapa kamu tanya ke aku? Kan kamu yang membawa barang2 belanjaanmu sendiri."
" Ya kali aja kamu tahu. Jangan-jangan ketinggalan lagi diresto!! Yah.. Keila!! Kamu sih asal narik tanganku aja tadi. Jadi ketinggalan kan?" Jesnita merasa sangat kecewa atas kehilangan baju barunya.
" Udah dweh jes gak usah lebay gitu. Beruntung kamu gak kehilangan Harta yang paling berharga dalam hidup kamu. Jika tadi yang mengikuti kita ternyata orang jahat. Kamu gak cuma akan kehilangan baju baru kamu. Tapi bisa juga perhiasan yang paling berharga yang kamu punya. Bahkan mungkin kamu  bisa kehilangan nyawa kamu. Kamu mau itu terjadi, hah?!" Aku menatap tajam jesnita dan membuatnya sedikit menunduk.
" Ya gak sih kei. Tapi.."
" Udah gak ada tapi-tapian. Okey besok kita kesana lagi dan cari baju yang mirip dnegan yang kamu beli itu. Biar kau yang bayarin. Sekarang aku mau istirahat."

Setelah banyak bincang dengan jesnita. Aku dan diapun akhirnya tidur terlelap. Melepas lelah yang kita berdua rasakan untuk hari ini.
***
Disekolah lagi banyak beredar tentang anak baru yang cakep dan pintar. Heboh sekali kayak kedatangan artis dari luar negeri aja. Aku sih cuek bebek. Tapi si jesnita ikut-ikutan lebaynya kayk mereka.
" Kei!! kamu denger itu kan? Disekolah kita kedatangan siswa baru dari luar negeri!! Wahh.. Pasti cakep seperti yang mereka bilang."
"Udah dweh jes! kamu jangan ikut-ikutan lebaynya kayak mereka. Memangnya mereka dah lihat anak baru itu? Kok bisa mereka berfikir kalau anak itu cakep. Lihat aja belum kan?"
" Tapi menurutku nih ya? Mereka pasti udah lihat. Kalau belum ya gak mungkin dong berita ini langsung tersebar gitu aja?! Tapi kita kok lum ketemu ya sama siswa baru itu?"
" Ahh... Sudahlah jes.,, Aku lagi malas sekali bahas hal-hal yang gak penting."
Akupun langsung bergegas menuju kelasku. Tidak peduli dengan apa yang dikatakan anak2. Bagi aku, mau cakep atau tidak, itu bukan urusanku. Lebihbaik kusibukkan diri aku dengan mendengarkan musik kesukaanku, Wish You Were Here by AVril Lavigne.
**
Waktunya masuk kelas. Kali ini adalah pelajaran yang sangat aku sukai, yaitu seni. Karena aku sangat suka dengan hal-hal yang berbau seni. Entah itu melukis, menyanyi atau bahkan ngedance. Ditambah gurunya sngat baik dan ramah,yaitu Pak doni.

Sebelum pelajaran dimulai, Pak Doni memberikan sedikit pengumuman.
" Anak-anak!! Mohon perhatiannya sebentar!! Ada yang ingin Bapak sampaikan pada kalian!!"
Seluruh siswa dikelasku pun langsung diam, termasuk aku. Kemudian pak doni melanjutkan pengumumannya.
" hari ini, kita kedatangan siswa baru dari Australia. Bapak harap kalian bisa menjadi teman baiknya dan mau membantunya memperkenalkan sekolah kita ini. Bapk panggil dulu sebentar."
Setelah mendengar pengumuman itu, anak-anak pada heboh sendiri. Sepertinya mereka tahu siapa siswa baru itu. Apalagi yang cewek-cewek itu. Udah pada kegenitan ingin segera melihat anak baru. Ini juga si jesnita. Udah gak kalah genitnya. Aku hanya bisa nyengir saja melihatnya.
" Kamu dengar kan kei!! Anak baru itu bakalan jadi teman sekelas kita!!" bisik jesnita ketelingaku.
" Ihh.. jes... Gak usah berlebihan gitu dweh. Biasa aja kalii.."

Beberapa saat kemudian, datanglah seorang cowok dengan langkah pelan menuju depan kelas. Semua anak bengong setelah memandang anak baru itu. Terutama aku. Bukan bengong lagi, tapi syok!!! bagaikan burung terbang yang terkena sebuah tembakan disalah satu sayapnya. Bukan..bukan... Bagaikan mentari yang tertutup awan. Wah... bukan juga.. pokoknya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata dweh!
Jantungku berdetak kencang melebihi kapasitas. Bukan.. Maksudku melebihi kecepatan normal. Aku seperti tersengat lebah. benar-benar tidak karuan setelah melihat anak baru itu. 
Bukan karena dia tampan atau dia keren. Tapi.. Karena ternyata dia adalah Ricko!! Orang yang sangat ingin aku hindari.

" Oh MY God.,.. !! Bagaimana bisa dia...." Mataku tak berkedip. Mulutku sedikit terbuka karena terkejutnya. Seakan dia tahu betapa terkejutnya aku. Sehingga dia pun memberikan senyuman yang masih sama seperti dulu. Senyuman yang dulu selalu dia berikan padaku. Senyuman yang pernah memberiku kesejukan. Sejuk.. memang.. Tapi langsung kualihkan pandanganku kekain Kanvas yang belum sempat aku corat-coret tuk ku jadikan lukisan terindah hari ini.

" Selamat pagi teman-teman!! Perkenalkan, nama saya Ricko yuswantoro. Saya pindahan dari AUSTRALIA. Salam kenal semuanya! "
tidak ada mata yang berkedip saat ricko memperkenalkan diri didepan kelas, kecuali para cowok yang merasa tersaingi karena kehadirannya.

" Ricko, kamu duduk disebelah keila ya? Keila.. bapak minta bantuan kamu untuk memperkenalkan ricko pada sekolah kita ini."
" APa pak?? Saya?? Tapi pak.. sama yang lain saja..." Protesku langsung.
" Memangnya kenapa keila?? Sekalian biar kalian bisa akrab kan? Gak cuma kamu saja, teman-teman yang lain juga bisa membantu ricko."
" Tapi....!!"
" Sudah.. sekarang biarkan ricko duduk disebelah kamu, dan kita mulai pelajaran hati ini dengan melukis."
Mau tidak mau, aku harus menerima keputusan pak doni yang sangat tidak aku inginkan. Kenapa juga harus aku? Kenapa bukan yang lain saja? Aku menoleh kearah anak-anak lain,terutama yang cewek. nampak wajah kecewa mereka karena ricko tidak bisa duduk disebelah mereka seperti yang mereka inginkan.

" Hai kei.." sapa ricko padaku.
Aku hanya diam saja mendengar dia menyapaku. Kucoba untuk tidak memandangnya, apapun yang terjadi.
" Gimana kabar kamu?" Tanyanya lagi. Tapi aku masih tetap nyuekin dia. Sepertinya sadar jika aku masih sangat marah padanya dan belum bisa memaafkan kesalahannya dimasa lalu.
" Sepertinya kita perlu biara nanti, kei.." Ucapnya lagi sebelum akhirnya dia mulai mencoret-coret kain kanvasnya.
Jesnita mencolek lenganku. Akupun menoleh kebelakang.
" Ada apa jes?"
" Kei.. Bukankah dia Ricko mantanmu?" Bisik jesnita.
" Hussstt.. Jangan keras-keras jes. Iya.. dia mantanku. Tapi jangan bahas dulu. Kita bicarakan saja nanti."
" Okey."

Jesnitapun kembali dengan melukisnya.
Hasil Lukisanku sudah jadi. Aku melukis seorang gadis yang sedang duduk termenung didepan danau disore hari. memandang indahnya Matahari yang mulai terbenam. Seperti gambaran suasana hatiku saat ini.
Ricko melihat lukisanku. Dan dia nampaknya sedikit tersenyum. Entah apa arti senyuman itu.

" Kamu masih sama kei.,, Masih jago melukis." Ucapnya lirih.
Aku mendengar apa yang dia ucapkan. Tapi aku pura-pura tidak mendengarnya.
Setelah pelajaran jam pertama selesai. Kebetulan Jam kedua dan seterusnya kosong karena ada rapat mendadak. Jadi, seluruh kelaspun dipulangkan.
Senang sih.. karena bisa sedikit refreshing dirumah. Tapi ada masalah nih kayaknya. Saat aku dan Jesnita sedang dalam perjalanan pulang, ricko tiba-tiba mencegahku didepan gerbang sekolah.

" Kei!!" Teriak ricko.
" Apaan sih?" Jawabku sinis.
" Kita harus bicara.."
" Maaf ... Memangnya ada keperluan apa yah? Sepertinya tidak ada yang perlu kita bicarakan. Dan aku juga sedang sibuk sekali hari ini. Benarkan jes??"
" Emm.... memangnya kita sibuk apa kei??" jwabnya dengan wajah oon nya.
" Jes.. Kamu lupa ya kalau kita akan pergi hari ini?" Akupun mencubit lengan jesnita supaya dia mengiyakan kata-kataku dan tidak membuat semuanya jadi berantakan.
" Oh iya.. iya.. aku lupa. Iya ricko.. kita sibuk hari ini. Jadi sepertinya kamu gak bisa ajak keila bicara dulu. Maaf ya ricko.. " Ucap jesnita menjelaskan. Untung saja dia mengiyakan. Kalau tidak pasti ricko tidak percaya padaku.
" Udah dengar kan? Jadi maaf saja. Lain kali saja kita bicara. Aku harus pergi.. Bye...!!"

Aku dan jesnitapun pergi gitu saja dari hadapan ricko. Aku yakin Ricko paham dengan sikapku. Dia pasti tahu jika tadi yang aku katakan hanyalah alasanku untuk tidak bicara dengannya.
***

Jumat, 16 Desember 2011

Why??????

Hidup Ini memang penuh dengan tanda tanya.,,
Bagaimana saat kita dihadapkan dengan hal yang dianggap berat atau sulit untuk kita hadapi...,
dan saat itu juga kata " Why" pasti akan terbesit dalam benak kita...,
Kenapa bisa terjadi hal seperti ini??
Kenapa Selalu begini?
Kenapa tidak mampu kulakukan?
atau Kenapa aku menjadi orang yang lemah hanya karena Problema??
Setiap Manusia bebas merasakan dan menanggapi kehidupannya sendiri dnegan caranya sendiri pula., Hanya saja.. memang bagaimana kita menyikapi hal tersebut yang mungkin mampu mengatasi segala apa yang kita hadapi. 
Why itu hanyalah pertanyaan yang membutuhkan jawaban dari diri kita sendiri., Bukan penyesalan atau menyalahkan apa yang terjadi pada kita.
Jujur,,, Aku sendiri belum sepenuhnya mampu untuk menghindar dari " WHY "??? Karena disini aku sedang belajar untuk memahami hidup. belajar untuk mengertikan kondisi dan belajar untuk menerima segala apa yang terjadi dalam kehidupan ini. So.,, Semangad lah untuk menghadapi hidup., itu juga merupakan salah satu cara agar kita mampu bertahan menghadapi segala sesuatu yang akan terjadi tanpa kita sadari dan tanpa kita duga..,, KEEP SMILE :'D

Rabu, 14 Desember 2011

Bila Hati Telah Bicara--> By Yunike Sundari

Mungkin bulan telah berganti Bintang,
atau bintang telah berganti bulan?
Begitulah kiranya langit bergumam,
memandang diri seakan padam

Kaki bukan baja,
hatipun demikian!
Telusuri jalan tanpa buntu,
meskipun begitu tak temukan pintu

Bila aku bisa berdendang
Kan kudendangkan hati ini untukNYA
Karena airmata sudah tak mampu mengalir lagi,
memandangnya yang jauh dari jiwa.....

Selasa, 13 Desember 2011

Hasil Lukisan ku ..,,
Dia adalah Orang yang sekarang ini ada dalam hati dan hidupku.,,
dan yang telah mampu membuatku berfikir banyak hal.. membuatku mampu memahami hidup dan membuatku mengerti tentang CINTA....

_____ Lukisan ini ku persembahkan untuk dia____

MISSUNDERSTANDING MEMBAWA MALAPETAKA


YUNIKE SUNDARI

KU kernyitkan dahiku.memikirkan apa yang sedang terjadi padaku. Pertengkaranku dengan yudha membuatku terpuruk dan gelisah. Sungguh aku tak tahu apa yang sedang terjadi padaku. Hingga aku merasa aku telah mati.
Kuangkat kakiku perlahan untuk menyusuri setiap lorong sekolah. Tidak ada siapapun. Sendirian dan sepi. Mungkin aku lupa kalau hari ini adalah hari libur. Makanya aku berangkat kekampus. Ternyata ,masalahku dengan yudha membuatku seakan hilang ingatan. Semuanya.
“ ada apa ini ?” tanyaku dalam hati. Aku berjalan lagi menyusuri koridor sekolah. Kulihat bayang-bayang samar menuju kelasku. Sangat  membuatku penasaran. Aku dekati bayangan itu. Perlahan dan sangat perlahan. Sampai tidak ada suara yang timbul dari hentakan kakiku saat berjalan.
“ siapa dia ? bukankah tadi nampak sepi-sepi aja ?kenapa masih ada orang selain aku disekolah ini ?” karena semakin penasaran, aku intai bayangan cowok itu dari jendela.
Betapa terkejutnya diriku saat tahu bahwa bayangan itu adalah pacarku yudha. Dia sedang duduk berdua dengan seorang cewek berkulit putih dengan rambut panjang digerai. Dan dengan bando berwarna putih melekat dikepalanya. Suara tertawa mereka dan wajah bahagia mereka sangat nampak dalam penglihatanku.
“ Yudha ? dia sama siapa ? cewek itu siapa ?” tubuhku lemas. Kepalaku  sudah tidak mampu berfikir positif lagi saat melihat kemesraan yudha dengan cewek itu.
Aku berjalan masuk kekelas. Dengan langkah tertatih. Hatiku hancur. Perasaanku hancur sekaligus pikiranku tentang yudha. Kesetiaan yang slalu dia perlihatkan padaku sudah tidak berguna lagi. Apa yang aku lihat adalah jawaban dari semuanya. Bahwa dia bukanlah cowok seperti yang pernah aku pikirkan dan orang-orang ketahui. Selingkuh. Itu yang sudah membutakan mata hatiku. Aku tak mempercayainya lagi. Apapun alasannya.
“ Yudha!” teriakku saat dia memegang tangan cewek itu dan memeluknya. Cewek yang sangat aku kenal dan sangat aku sayangi yaitu vita.
Yudha dan vita berdiri dan terkejut melihatku berada didepan mereka. Wajah mereka berubah jadi pucat. Mata mereka melotot. Syok mungkin. Harusnya aku yang merasakan hal itu. Tapi ternyata mereka juga.
“ Ajeng ?” serentak mereka mengucapkan namaku yang indah itu.
Airmataku menetes. Tubuhku bergetar. Nafasku tersendat dan kepalaku seakan mau pecah. Aku sangat menyayangi yudha seperti aku menyayangi diriku sendiri. Aku mencintainya seperti aku mencintai raga dan jiwaku. Aku tak pernah sesekalipun menghianati kepercayaannya. Tapi apa yang sudah dia lakukan padaku ? kepercayaanku padanya sudah musnah. Begitupun juga kepercayaanku pada vita sahabat karibku sendiri.
Kucoba bertahan dengan kondisi seperti ini. Aku tak ingin menangis didepn mereka. Akupun tak ingin emosi dihadapan mereka. Tapi aku tak bisa. Perasaanku pada mereka telah membuatku buta akan kata maaf.
“ Jeng.. ini gak seperti yang lo lihat..” ucap yudha menjelaskan. Tapi aku tetap tidak percaya.
“ Tidak seperti yang gue lihat? Lalu tadi apa yang gue lihat ?tangan lo memegang tangannya dengan mesra. Lalu pelukan itu.. lo memeluk dia seperti saat lo memeluk gue. Lalu apa yang gue lihat barusan yudha ?! Apa!! Hanya sebuah drama gitu ? atau kalian lagi belajar akting untuk ikut audisi pemilihan pemain aktor dan aktris buat sebuah film ? Gue kecewa sama kalian berdua.. gue kecewa!!”
 Aku membalikkan tubuhku. Merasakan degupan jantungku yang semakin lama semakin membuatku sesak. Airmataku tak berhenti mengalir. Kesakitan yang ku rasakan membuatku ingin pergi dari hadapan mereka.
“ Ajeng !!” teriak yudha kembali. Dia mengejarku saat ku lari. Aku tak tahan melihatnya. Aku tak kuat. Akupun tak menghiraukan panggilannya. Aku tak hiraukan dia saat mengejarku. Yang ada dalam pikiranku hanyalah kekecewaan , penghianatan dan perselingkuhan.
Aku berhenti ditengah-tengah jalan yang sepi. Aku menangis dan menutup mukaku dengan kedua tanganku. Aku sadar bahwa aku telah salah mencintainya.
Ternyata langit memahami perasaanku sekarang. Sampai-sampai langitpun ikut menangis dan membasahi tubuhku. Iya.. benar.. hujan telah berguyur dengan derasnya menemani kesedihanku.
“ Harusnya gue tau, kalau lo gak pernah mencintai gue! Harusnya gue tahu itu. Kenapa lo sakitin gue yudha ! apa salah gue ! apa !” aku menjerit sekeras-kerasnya. Berharap yudha mendengar apa yang aku katakan barusan. Dan memang benar, dia mendengar kata-kataku. Dia berhenti beberapa meter dariku. Dia mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku tak mau mendengarnya.
“ Ajeng.. dengerin dulu penjelasanku. Aku sama vita gak ada apa-apa. Kita hanya..”
“ Udah STOOPPPP!!! Jangan pernah lo bicara lagi ke gue yudha. Lo udah hancurin semuanya ! perasaan gue, kebahagiaan gue, kepercayaan gue yang udah gue kasih ke lo ! Lo udah menghancurkannya. Dan gue kira , kita sudah tidak ada hubungan apapun mulai sekarang. Gak ada.. jadi gue mohon jangan ganggu hidup gue lagi..”
“ Tapi jeng.. lo salah paham. Ini gak seperti yang lo pikirkan. Lo salah paham ajeng!”
“ Gak yudha ! tadi sudah cukup buat gue tahu. Jika lo hanya mempermainkan gue. Iya kan ! Please yudha, jangan membuat gue tambah sakit.. sudah cukup semuanya.. kita ahiri sekarang. Karena gue tak mau lagi denganmu..”
Vita muncul dan ikut menjelaskan permasalahn tadi. Aku tetap kekeh dengan penglihatanku bahwa mereka selingkuh. Vita menangis dan merengek. Berharap aku percaya setiap kata yang dia ucapkan. Tapi tidak untuk kali ini. Aku tak mau percaya siapapun yang sudah menghianatiku. Aku tahu kita adalah sahabat. Tapi penghianat tetap penghianat. Aku takkan pernah memaafkan orang yang menyakitiku. Sekalipun orang itu adalah orang-orang yang sangat aku sayangi dan aku cintai.
“ Jangan pernah ganggu hidup gue lagi.. gue gak mau melihat kalian berdua lagi.. gak akan !! dan gue harap ini adalah yang terakhir gue lihat kalian berdua.. jadi jangan pernah mencoba membawa gue kembali..”
“ Gak ajeng.. gue akan tetap menjelaskan ke lo kalau gue memang gak ada hubungan apa-apa dengan yudha. Gue mohon lo percaya sama gue jeng. Gue mohon..”
“ Maaf vita.. lo salah kalau lo bisa bohongi gue lagi. Gue bukan anak kecil yang bisa dibohongi terus-menerus. Hati gue udah terlanjur sakit dengan kalian. Gue gak akan pernah maafin kalian, sekalipun gue mati..”
Aku mencoba menahan rasa perih dihati saat aku tinggalkan mereka. Mereka memanggil-manggil namaku. Entah kenapa aku tidak tahu. Aku tidak memperhatikannya dan tak mau mendengarnya. Sampai akhirnya aku sadar bahwa dari arah samping ada sebuah mobil mercy berwarna hitam melaju dengan kecepatan sangat tinggi menuju kearahku tanpa berbelok. Mungkin karena hujan terus licin atau karena apa aku gak tahu. Tapi seketika itu juga, tubuhku terhempas jauh dan kepalaku terbentur batu hingga membuat kepalaku berdarah.
Yudha dan vita langsung menghampiriku. Aku tak bisa membalikkan badanku. Tubuhku sudah terlalu lemah untuk melakukan itu. Penglihatanku juga kabur. Aku tak bisa melihat jelas apa yang ada dihadapnku.
“ Ajeng..!! Ajeng..!!!” suara teriakan mereka memanggil-manggil namaku sedikit terdengar ditelingaku. Aku ingin menjawab. Tapi mulutku seakan terkunci. Aku tak bisa. Pasrah.
Setelah kejadian itu, aku tak tahu apa yang sudah terjadi padaku. Tapi saat ku buka mataku, kudapati diriku dikamarku. Sedang terbaring. Seperti baru saja tidur terlelap.
Ternyata aku masih berpakaian seragam. Tas, sepatu dan semuanya masih melekat ditubuhku.
“ Bukankah tadi gue habis kecelakaan ? lalu kenapa gue masih berpakaian seperti ini?” batinku aneh.
Aku beranjak dari tempat tidur lalu aku turun kebawah melihat situasi dirumah. Apakah barusan aku sedang bermimpi? Ku tepuk-tepuk kedua pipiku. Sepertinya sakit. Tapi.. benar-benar aneh. Aku bahkan tak ingat sebelum ku tertidur dikamar, apa yang sudah aku lakukan.
“ Ma!! Mama!.. ma..ma!! “ aku berteriak memanggil-manggil mama. Tapi gak ada sahutan sama sekali. Aku pergi kekamarnya. Gak ada siapapun. Termasuk papa. Biasanya jam segini papa pergi kekantornya. Jadi wajar kalau papa gak ada dirumah. Tapi mama ? tumben-tumbennan gak ada dirumah. Gak bilang-bilang lagi. Bibi juga gak ada.
“ Hufht.. pada kemana sih kok gak ada ?” gue lihat hari ini hari apa. “Astaghfirullah.. ini kan hari senin. Gue harus berangkat sekolah.. aduhh.. payah banget sih gue. Sampai kelupaan hari gini. “
Cepat-cepat aku bergegas kesekolah. Tanpa harus memkai seragam atau sepatu lagi. Meskipun hari ini rasanya aneh, tapi aku tetap berfikir positif saja. Aku berjalan menuju sekolah tanpa menggunakan sepeda motor maupun mobil. Karena semuanya tidak ada dirumah. Mungkin sedang dipakai.
Mau pakai angkot juga kagak ada yang berhenti-henti saat aku teriakin. Ya sudah. Dengan sangat terpaksa akupun berjalan kaki. Meski membutuhkan waktu 15 menitan lah supaya sampai disekolah. Tapi ini sudah siang. Pasti kalau aku terlambat, aku bakalan dimarahin sama bu guru, fikirku gelisah.
Aku tetap berjalan dengan sepenuh tenaga menyusuri jalan raya yang lumayan sepi itu. Andai saja aku bisa cepat sampai disekolah. Baru juga beberapa menit aku berkata seperti itu, eh tau taunya aku sudah ada didepan pintu sekolah.
“Lowh.. bukannya tadi aku masih jauh ya dari sekolah ? kok aku sudah ada disini ? apa tadi jalanku saking cepatnya kali ya ? sampai-sampai aku tidak sadar kalau sudah dekat dengan sekolahku.” Gumamku lirih.
Kulihat penjaga sekolah sedang duduk dipos satpam. Biasanya jika melihatku, dia menyapaku. Tapi kok sekarang tidak ? dia cuek saja melihatku.
“ ahh.. sudahlah.. gak penting juga disapa pak satpam.. “ batinku kesal.
Aku berjalan menuju kelasku. Suasana sekolah sudah hening. Itu artinya pelajaran sudah dimulai. Aku pasti terlambat. Aku harus bergegas.
Sesampainya didepan kelas, ternyata benar dugaanku, aku sudah benar-benar terlambat. Bu guru yang sangat aku takuti sudah ada didepan kelas. Mungkin sedang menerangkan. Tapi kali ini aku mendengar sedikit pengumuman dari beliau.
“ Anak-anak sekalian.. sebelum kita melanjutkan pelajaran kita, mari kita doakan teman kalian yang sedang terkena musibah. Semoga teman kalian bisa sembuh seperti sedia kala. Karena saat ini keadaan dia sedang dalam kondisi koma. Menurut kepercayaan masing-masing, berdoa dimulai.”
Semua anak menunduk. Mulai mengucapkan doa-doa untuk orang yang sedang sakit sekarang. Aku penasaran siapa orang yang sedang sakit itu. Kulihat yudha dari balik jendela. Wajah dia lesu, pucat dan nampak sekali kalau dia sangat sedih. Kulihat juga vita yang duduk disamping tempat dudukku. Dia menangis terisak-isak saat berdoa.
“ heran deh.. kok mereka sampai segitunya sih ? memangnya siapa yang sakit ? siapa yang koma ?” aku bingung dan gak tahu mau bertanya sama siapa. Karena saat aku mencoba memanggil vita ataupun yudha, mereka seperti tidak mendengar sedikitpun panggilanku.
Karena aku bosan menunggu pergantian jam. Aku juga takut kalau nanti bu guru mendapatiku sedang duduk santai didepan kelas, aku bisa dihukum berat. Lalu kutinggalkan kelasku dan sekolahku. Untung ada pintu keluar dari belakang. Jadi aku bisa keluar dari sekolah tanpa sepengetahuan pak satpam.
“ Kenapa ya ? hari ini rasanya sangat aneh. Dirumah gak ada siapa-saiapa. Disekolah malah ada pengumuman yang menyedihkan seperti itu. Ditambah lagi gue harus terlambat berangkat sekolah. Sepertinya hari ini bukan hari yang indah buat gue.”
Ku pegang kalung pemberian yudha. Kalung berbentuk keong yang dia berikan sebagai tanda cinta saat pertama kali kita jadian. Karena kalung itulah, aku selalu dipanggil yudha dengan sebutan Putry keong. Nama yang lucu bukan ? iya lucu sekali. Aku sangat senang dia memanggilku begitu.
“ Yudha.. Sebenarnya apa yang sedang terjadi pada kita ? pertengkaran itu. Perselingkuhan itu. Apakah hanya mimpi gue? tapi rasanya hati gue sangat sedih saat ini.  Gue sangat merindukan lo yudha. Hufht.. apakah loe rasain hal yang sama ke gue ?”
Aku sandarkan tubuhku dikursi taman dekat sekolah. Aku merenung disana. Berharap waktu cepat berputar. Sehingga sepulang sekolah aku bisa menemui yudha dan bertemu dengannya.
****
sering-sring mampir diakunku yah ?? http://www.facebook.com/profile.php?id=100001000693458&ref=tn_tnmn