Vanesa menghela
nafas panjang. Kemudian dia kembali menyisir rambutnya yang tergerai panjang
dan hitam berkilau. Lalu dia menatap lisa dengan wajah teduh.
“ Tumben dia
kemari? Bukankah dia sangat sibuk akhir-akhir ini?”
“ Mungkin
kangen.” Lisa tersenyum lebar. Membuat vanesa berpaling dan melanjutkan kembali
menyisir rambutnya.
Kangen? Tentu
saja kangen. Selama ini reza terlalu sibuk dengan aktivitasnya yang kurang
jelas itu. Iya sih, dia sibuk kuliah. Tapi saat waktu senggang, reza sibukkan
dirinya sendiri dengan teman-temannya. Entah apa yang dia kerjakan. Sepak bola?
Ngeband ? Nongkrong ? Atau ada hal lain yang nggak vanesa tahu?
“ Sama siapa?”
“ Sendiri.”
“ Suruh saja dia
nunggu. Bentar lagi aku keluar.” Ucap vanesa malas-malasan.
“ Nampaknya kamu
tak bahagia dia datang.” Ucap lisa pelan.
Bahagia? Bisa
sih dibilang bahagia. Tapi kebahagiaan ini tidak seperti dulu-dulu waktu reza
masih sering dan punya banyak waktu untuknya. Sebulan terakhir ini reza memang
sangat jarang berkomunikasi dengan vanesa. Sehari saja bisa dihitung berapa
kali mereka SMS-an. Telpon-telponan saja hampir tidak pernah.
“ Aku sangat
bahagia. Bukankah terlihat begitu?” vanesa menarik kedua ujung bibirnya
sehingga senyumannya terlihat sangat tidak natural.
“ baiklah aku akan
kasih tahu reza untuk menunggumu.” Lisapun pergi menyampaikan pesan dari
vanesa.
Vanesa berharap
hari ini adalah hari yang membahagiakannya. Apalagi dia bertemu dengan kekasih
hatinya yang sudah satu bulan ini tidak pernah ditemuinya karena kesibukan
masing-masing.
Namun, hatinya
tidaklah yakin bahwa hari ini dia akan mendapatkan kebahagiaan seperti
sebelum-sebelumnya.
Terlihat reza
sedang asyik ngobrol dengan ibu vanesa. Ketawa-ketiwi terlihat jelas dari suara
cekikikan mereka berdua. Tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Vanesa hanya menyunggingkan
bibirnya dan bersikap sangatlah ramah untuk menyambut kekasihnya itu.
“Sudah dari
tadi?” Tanya vanesa lirih.
“ Baru saja
kok.” Jawab reza samar-samar.
“ Ya sudah, ibu
kedalam dulu. Kalian lanjutkan ngobrolnya.” Ibu vanesa meninggalkan mereka
berdua.
Seharusnya ibu
disini saja. Batin vanesa kesal.
“ Tumben?!”
“ Maksudnya?”
reza tidak paham.
“ Tumben kamu
punya waktu untuk datang kesini.”
“ Kenapa kamu
berkata seperti itu? Ya aku kan kangen kamu, makanya aku kemari. Kamu nggak
kangen aku apa?”
“ Kangen. Banget
malah. Ya.. Aku cuma heran saja. Bukankah kamu sangat sibuk hari ini?”
Lisa menatap
tajam keluar jendela. Dia tidak berani menatap mata reza karena akan membuat
hatinya lengah.
Reza
menghembuskan nafas. Seakan dari tadi nafasnya tertahan. Vanesa mendengar
dengusan nafasnya. Kemudian diapun ikut menghela nafas.
“ Aku batalkan
semuanya.”
“ Batalkan?
Kenapa?” vanesa menoleh ke arah reza.
“Karena kamu.”
“ Karena aku?”
“ iya.. karena aku
lebih memilih untuk bersama kamu hari ini. Aku ingin mengganti hari-hari
sebelumnya yang hilang tanpamu karena kesibukanku. Apa kamu tak senang dengan
kedatanganku?” Reza menunduk.
Benar-benar
menyulitkan. Harusnya hari ini vanesa punya alasan untuk memarahi reza. Namun,
pengorbanan reza untuknya sungguh diluar dugaan. Dia tak pernah berfikir jika
reza lebih memilih untuk bersamanya dibandingkan dengan acaranya bersama
teman-temannya.
“ Kenapa kamu
lakukan itu? Aku tidak ingin kamu terpaksa melakukannya hanya karena aku.”
“ Tidak nesa..
Aku batalin semua memang karena keinginanku. Aku ingin bersamamu. Sebulan
terakhir ini kita tak pernah bertemu. Kita juga jarang berkomunikasi. Aku tak
mau kehilangan masa-masa kita seperti dulu. Aku merindukannya nesa. “ mata reza berbinar-binar saat mengucapkannya.
Kini vanesa
tersenyum lepas. Senyuman yang jauh lebih natural dibandingkan tadi saat dia
harus tersenyum didepan lisa.
“ Aku juga
sangat merindukanmu reza. Aku rindukan masa-masa indah kita. Masa-masa dimana
kamu slalu ada buatku. Terimakasih atas pengorbananmu.” Vanesa langsung memeluk
reza. Reza sangat bahagia melihat kekasihnya itu ceria kembali. Apalagi tadi
dia sempat takut vanesa akan memarahinya.
“ Malam ini kita
jalan yuk?” ajak reza.
“ Kemana?”
“ Kemanapun kamu
mau sayang.. “
“ Emmmpt..
ketempat biasa aja ya? Aku ingin melihat bintang bersamamu. “
“ Iya sayang...”
Balas reza sambil membelai rambut vanesa yang indah itu.
Dua minggu
berlalu. Semenjak malam itu, reza kembali menjadi reza yang dulu. Penuh
perhatian dan punya banyak waktu untuk vanesa. Hal ini membuat reza jadi
dijauhin sahabat-sahabatnya. Karena, sahabatnya berfikir bahwa reza sudah
melupakan mereka semenjak pacaran dengan vanesa.
Reza merasa
serba salah. Saat dia harus bersama teman-temannya, vanesa merasa cemburu
karena reza lebih mempunyai banyak waktu
bersama teman-temannya dibandingkan dirinya. Namun ketika reza harus bersama
vanesa, sahabat-sahabatnya mengangggap reza sudah tidak peduli dengan mereka.
“Apa yang salah
denganku” Pikir reza sejenak ketika dia mendapatkan sms dari sahabatnya yang
tiba-tiba saja membatalkan rencana mereka.
“ Apa kamu
sadar?” tiba-tiba terdengar suara laki-laki dari samping tempat duduk reza.
Reza menoleh dan sedikit terkejut.
“ Ferdi? Ngapain
loe disini? Bukankah loe ada diluar kota?” Tanya reza heran.
Ferdi adalah
mantan kekasih vanesa. Dan reza adalah teman seangkatannya dulu waktu SMA.
“ Nyamperin loe.
Gue memutuskan pindah kampus. “
“ Pindah kampus?”
“Iya.. Pindah
kampus. Gue pindah karena ada alasan.”
“ Oke gak akn
gue Tanyakan alasan loe pindah sini. Tapi gue mau Tanya maksud loe apa tadi?
Sadar tentang apa?”
“ Ya loe sadar
nggak dengan sikap loe itu?”
“ sikap gue?”
“ memangnya
kenapa sikap gue? Masalah buat loe?”
“ Nggak juga.
Hanya saja masalah buat vanesa. Loe pasti mengira bahwa sikap loe itu udah benar
kan? Coba lihat sekarang! Loe yang pusing sendiri karena vanesa dan
sahabat-sahabat loe.”
“ Bagaimana loe
tahu?”
“ Apa sih yang
nggak gue tahu tentang loe ataupun vanesa?” ferdi tersenyum sinis. Matanya
menahan amarah yang dirasanya sudah ingin diluapkan dihadapan reza.
“ Loe
memata-matai kami?” Reza agak geram.
“ Nggak. Gue
hanya tidak mau loe nyakitin cewek yang masih gue sayang. Dan cewek itu adalah
vanesa.”
“ Atas dasar apa
loe nyampurin urusan gue?”
“ Atas dasar
cinta gue ke dia. Apa loe nggak sadar kalau selama ini loe hanya menyakitinya?
Loe slalu sibuk dengan urusan loe sama sahabat-sahabat loe itu. Gue perhatiin
vanesa akhir-akhir ini sering diam dan murung sendiri. Apa loe tahu itu? Nggak
kan?” ferdi mulai meluapkan emosinya. Tapi reza justru bengong.
“ Tapi sekarang
gue selalu kasih waktu buat dia. Dan dia bahagia-bahagia aja.”
“ Hey..! Loe
pikir dong! Mau sampai kapan loe seperti ini terus? Mau sampai loe kehilangan
sahabat-sahabat loe yang nggak pengertian itu? Atau justru sampai loe bosan
karena sikap vanesa yang cemburu dengan waktu loe saat bersama sahabat loe?!”
“ Gue… “
“ Gue apa? Gue
harap loe bisa bijak dalam masalah ini. Gue yakin, lama-lama loe akan melepaskan
vanesa karena sahabat loe. Gue saranin aja, daripada loe sakitin dia lebih jauh
lagi. Lebih baik, loe lepasin dia sekarang. Dan gue akan bahagiain dia jauh
lebih dari yang loe kasih ke dia.”
“ Apa?! Loe
gila?! Gue cinta sama nesa! Dan gue nggak mungkin melepaskan dia begitu aja.
Apalagi buat cowok kaya’ loe!”
“ terserah deh
loe mau bilang apa soal gue. Yang jelas, gue nggak akan ngebiarin loe bersikap seenaknya ke nesa. Gue akan dapetin
hatinya kembali. Kita lihat saja, siapa yang berhasil membahagiakannya. Gue….
Atau.. Loe !”
Ferdi menghilang
dari pandangan reza. Reza hanya terduduk lemas setelah berdebat dengan ferdi.
Apa yang dikatakan ferdi memang benar. Bahwa dia sampai saat ini belum
membahagiakan vanesa dan hanya menyakiti perasaannya. Tapi dia tidak akan
menyerah begitu saja untuk hubungan yang sudah terjalin selama setahun ini.
“ Gue akan
buktikan fer, gue yang jauh lebih baik buat nesa.” Gumam reza.
Langit yang
menggelap menyiratkan hasrat kantuk yang begitu dalam. Tubuh yang mulai melemah
dan fikiran yang mulai goyah membuat gadis cantik seperti vanesa terkapar
dikamarnya. Sambil memegangi handphone kesayangannya, dia mulai memutar
playlist music yang paling favorite. Dan dia mulai melantunkan lagu syahdu
untuk mewakili perasaannya malam itu.
“
Aku tak biasa.. Bila tiada kau disisiku. Aku tak biasa bila ku tak mendengar
suaramu..” begitulah suara merdu nesa saat
menyanyikan lagu mellow dari almarhumah Alda Risma yang di Recycle ulang oleh
Syahrini. Sesuatu banget pokoknya.
“zzzztttt.
Zzzzzzttt….zzzzzzttttttt…” Handphonenya bergetar. Vanesa berhenti bernyanyi.
Lalu dia pandangi layar HPnya.
“ Satu pesan
diterima. Hemmpt.. pasti dari Reza.” Sikap sotoynya alias sok tahunya kumat.
Saking senangnya dia buka sms dan langsung membacanya.
“ Besok temui
aku di Taman belakang kampus.” Bibirnya bergerak-gerak mengikuti setiap kata
yang dia ucapkan.
“ Ini siapa?”
Balas vanesa.
“ Nanti kamu
juga akan tahu.”
“Aku tidak suka
menemui orang yang tidak aku kenal.” Balasnya lagi.
“ Kamu sangat mengenalku.
Yang penting besok temui aku dulu.”
“kasih tahu dulu
siapa kamu.”
Vanesa menunggu
balasan lagi dari orang misterius itu. Tapi tak ada balasan juga. Hati vanesa
jadi tidak tenang. Dia begitu penasaran dengan
orang ini. Tapi dia takut jika menemuinya justru orang itu adalah orang
jahat.
“ Apa aku harus
menemuinya?” Batinnya resah. Resa memegangi kepalanya yang mulai terasa pening.
Rambutnya yang tergerai diacak-acaknya hingga seberantakan mungkin. Sms itu
benar-benar membuatnya bingung bukan main.
Keesokan
harinya, dia berangkat kuliah sendirian. Biasanya dia berangkat bersama
temannya. Tapi temannya sedang tidak enak badan. Sehingga terpaksa harus absen
kuliah.
“ Aduh…
sendirian dan sepi. Mana nggak ad angkot lagi.” Keluhnya kesal.
Vanesa memang
termasuk orang yang moody. Saat suasana hatinya sedang tidak baik alias bad
mood, apapun yang dilakukannya akan terasa melelahkan dan membosankan. Dan
pasti dia akan marah-marah sendiri gak jelas.
“ Bareng
yuukkk…” Tanpa permisi seseorang telah berhenti tepat disampingnya dengan Motor
Ninja merahnya.
Vanesa terkejut
dengan kedatangan orang itu secara tiba-tiba. Matanya meloto setelah mengetahui
bahwa orang itu adalah ferdi, mantan kekasihnya.
“ Ferdi?
Bagaimana kamu ada disini? Bukankah kamu kuliah diluar kota?”
Ferdi hanya
tersenyum tanpa menjawab apapun.
“ Pertanyaan,u
aku jawab nanti saja. Sekarang naik. Aku antar kamu sampai kampus.
Dengar-dengar hari ini ada ulangan loh.”
“ Ulangan??”
Vanesa mencoba mengingat-ingat. “ Astgahfirullah… Iya, hari ini ada ulangan.
Mampus! Aku lupa dan belum belajar.”
“ makanya..
sekarang aku antar kamu biar kamu cepet
sampai. Lebihbaik nggak belajar daripda kamu nggak ikut Ulangan kan?”
“ Iya sih.
Tapi…”
“ Tapi kenapa?
Kamu nggak mau boncengan sama aku karena takut Reza melihatnya?”
“ Emmmpt itu….”
“ Udahlah nes..
Dia dikampus lain. Dia nggak bakal lihat kok. Yang penting kamu bisa ikut
ulangan.”
“ Ya sudah deh.
Tapi aku mau bukan karena kamu ya? Jadi kamu jangan GR.” Nesa menodongkan jari
telunjuknya ke muka ferdi. Ferdi mengerutkan keningnya lalu mengantarkan nesa
menuju kampusnya.
Sesampainya
dikampus, Nesa langsung meninggalkan ferdi begitu saja tanpa mengucapkan
terimakasih. Ferdi kesal melihat tingkah nesa yang berubah jutek padanya
semenjak mereka putus.
“ Bilang
terimakasih kek. Main pergi aja..” Gerutu ferdi. Diapun pergi entah kemana
seakan terbawa angin dan menghilang.
****
“ Bengong aja
loe!” Nanda mengagetkan nesa yang sedang asyik melamun. Nesa memanyunkan
bibirnya dan mulai mendesah.
“ Ahhhh!! Kau
ini nda. Gue lagi gak mood you know?”
“ I Know bebh.
Terlihat tuh dari muka kucel loe? Kenapa lagi? Reza lagi?”
“Reza
darimananye? Gue lagi nggak mau mikirin itu. Gue sama Reza lagi break dulu
karena dia lagi sibuk sama sahabat-sahabatnya.”
“Terus? Kenapa
muka loe kaya kambing congek gitu? Hahaha…”
“ Nggak lucu
tahu nda. Gue lagi mikirin sesuatu. Ada yang ngajal ketemuan sama gue. Tapi gue
nggak tahu dia siapa.” Nesa mengacak-acak rambutnya.
“ terus lo mau
temuin dia?”
“ nggak tahu deh
nda. Gue bingung. Dia memaksaku buat temuin dia. Tapi gue nggak mau. Gue anti
ketemu orang yang nggak gue kenal.”
“ Ya sudah ngga
usah loe pikirin lagi. Mending nggak usah temuin dia. Ntar yang ada malah jadi
masalah buat loe. Sekarang, loe hubungi saja reza. Ajak ketemuan. Kali aja dia
mau.”
“ Ahh… tensin
gue ajak dia. Biar dia aja yang sms gue dan ngajakin gue.”
“ Loe tuh jadi
orang tensin mulu. Sekali-kali loe ngalah.”
“ tapi..”
“ udah.. nggak
ada tapi-tapian.”
“ Oke deh miss
crewet..” Nesa mengambil handphonenya dan mulai mengetik bebrapa kata untuk
reza.
“
Kita ketemuan yuukks…”
“
Oke.. dimana?”
“
Ditempat biasa..”
“
Sieeep.. ntar aku jemput kamu.”
“
Oke.”
Nesa memasukkan
lagi handphonenya kedalam tas pink kesayangannya.
“ Gimana sa?”
“Hemmpt.. Dia
mau nda!!!!! Gue seneng banget :D”
“ Tuh kan? Apa
gue bilang. Sekarang kita pulang dan loe siap-siap deh buat ketemu ma dia.”
“ Oke deh miss
crewet :D. Makasih ya sarannya :D. Loe memang sahabat gue yang paling baik.”
_ BERSAMBUNG_