Senin, 21 Mei 2012

Cinta Takkan Salah


Cinta Takkan Salah

“ Dia datang!”
“ Siapa?”
“ Reza!!”
Vanesa menghela nafas panjang. Kemudian dia kembali menyisir rambutnya yang tergerai panjang dan hitam berkilau. Lalu dia menatap lisa dengan wajah teduh.
“ Tumben dia kemari? Bukankah dia sangat sibuk akhir-akhir ini?”
“ Mungkin kangen.” Lisa tersenyum lebar. Membuat vanesa berpaling dan melanjutkan kembali menyisir rambutnya.
Kangen? Tentu saja kangen. Selama ini reza terlalu sibuk dengan aktivitasnya yang kurang jelas itu. Iya sih, dia sibuk kuliah. Tapi saat waktu senggang, reza sibukkan dirinya sendiri dengan teman-temannya. Entah apa yang dia kerjakan. Sepak bola? Ngeband ? Nongkrong ? Atau ada hal lain yang nggak vanesa tahu?
“ Sama siapa?”
“ Sendiri.”
“ Suruh saja dia nunggu. Bentar lagi aku keluar.” Ucap vanesa malas-malasan.
“ Nampaknya kamu tak bahagia dia datang.” Ucap lisa pelan.
Bahagia? Bisa sih dibilang bahagia. Tapi kebahagiaan ini tidak seperti dulu-dulu waktu reza masih sering dan punya banyak waktu untuknya. Sebulan terakhir ini reza memang sangat jarang berkomunikasi dengan vanesa. Sehari saja bisa dihitung berapa kali mereka SMS-an. Telpon-telponan saja hampir tidak pernah.
“ Aku sangat bahagia. Bukankah terlihat begitu?” vanesa menarik kedua ujung bibirnya sehingga senyumannya terlihat sangat tidak natural.
“ baiklah aku akan kasih tahu reza untuk menunggumu.” Lisapun pergi menyampaikan pesan dari vanesa.
Vanesa berharap hari ini adalah hari yang membahagiakannya. Apalagi dia bertemu dengan kekasih hatinya yang sudah satu bulan ini tidak pernah ditemuinya karena kesibukan masing-masing.
Namun, hatinya tidaklah yakin bahwa hari ini dia akan mendapatkan kebahagiaan seperti sebelum-sebelumnya.
Terlihat reza sedang asyik ngobrol dengan ibu vanesa. Ketawa-ketiwi terlihat jelas dari suara cekikikan mereka berdua. Tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Vanesa hanya menyunggingkan bibirnya dan bersikap sangatlah ramah untuk menyambut kekasihnya itu.
“Sudah dari tadi?” Tanya vanesa lirih.
“ Baru saja kok.” Jawab reza samar-samar.
“ Ya sudah, ibu kedalam dulu. Kalian lanjutkan ngobrolnya.” Ibu vanesa meninggalkan mereka berdua.
Seharusnya ibu disini saja. Batin vanesa kesal.
“ Tumben?!”
“ Maksudnya?” reza tidak paham.
“ Tumben kamu punya waktu untuk datang kesini.”
“ Kenapa kamu berkata seperti itu? Ya aku kan kangen kamu, makanya aku kemari. Kamu nggak kangen aku apa?”
“ Kangen. Banget malah. Ya.. Aku cuma heran saja. Bukankah kamu sangat sibuk hari ini?”
Lisa menatap tajam keluar jendela. Dia tidak berani menatap mata reza karena akan membuat hatinya lengah.
Reza menghembuskan nafas. Seakan dari tadi nafasnya tertahan. Vanesa mendengar dengusan nafasnya. Kemudian diapun ikut menghela nafas.
“ Aku batalkan semuanya.”
“ Batalkan? Kenapa?” vanesa menoleh ke arah reza.
“Karena kamu.”
“ Karena aku?”
“ iya.. karena aku lebih memilih untuk bersama kamu hari ini. Aku ingin mengganti hari-hari sebelumnya yang hilang tanpamu karena kesibukanku. Apa kamu tak senang dengan kedatanganku?” Reza menunduk.
Benar-benar menyulitkan. Harusnya hari ini vanesa punya alasan untuk memarahi reza. Namun, pengorbanan reza untuknya sungguh diluar dugaan. Dia tak pernah berfikir jika reza lebih memilih untuk bersamanya dibandingkan dengan acaranya bersama teman-temannya.
“ Kenapa kamu lakukan itu? Aku tidak ingin kamu terpaksa melakukannya hanya karena aku.”
“ Tidak nesa.. Aku batalin semua memang karena keinginanku. Aku ingin bersamamu. Sebulan terakhir ini kita tak pernah bertemu. Kita juga jarang berkomunikasi. Aku tak mau kehilangan masa-masa kita seperti dulu. Aku merindukannya nesa. “  mata reza berbinar-binar saat mengucapkannya.
Kini vanesa tersenyum lepas. Senyuman yang jauh lebih natural dibandingkan tadi saat dia harus tersenyum didepan lisa.
“ Aku juga sangat merindukanmu reza. Aku rindukan masa-masa indah kita. Masa-masa dimana kamu slalu ada buatku. Terimakasih atas pengorbananmu.” Vanesa langsung memeluk reza. Reza sangat bahagia melihat kekasihnya itu ceria kembali. Apalagi tadi dia sempat takut vanesa akan memarahinya.
“ Malam ini kita jalan yuk?” ajak reza.
“ Kemana?”
“ Kemanapun kamu mau sayang.. “
“ Emmmpt.. ketempat biasa aja ya? Aku ingin melihat bintang bersamamu. “
“ Iya sayang...” Balas reza sambil membelai rambut vanesa yang indah itu.
***
Dua minggu berlalu. Semenjak malam itu, reza kembali menjadi reza yang dulu. Penuh perhatian dan punya banyak waktu untuk vanesa. Hal ini membuat reza jadi dijauhin sahabat-sahabatnya. Karena, sahabatnya berfikir bahwa reza sudah melupakan mereka semenjak pacaran dengan vanesa.
Reza merasa serba salah. Saat dia harus bersama teman-temannya, vanesa merasa cemburu karena reza lebih  mempunyai banyak waktu bersama teman-temannya dibandingkan dirinya. Namun ketika reza harus bersama vanesa, sahabat-sahabatnya mengangggap reza sudah tidak peduli dengan mereka.
“Apa yang salah denganku” Pikir reza sejenak ketika dia mendapatkan sms dari sahabatnya yang tiba-tiba saja membatalkan rencana mereka.
“ Apa kamu sadar?” tiba-tiba terdengar suara laki-laki dari samping tempat duduk reza. Reza menoleh dan sedikit terkejut.
“ Ferdi? Ngapain loe disini? Bukankah loe ada diluar kota?” Tanya reza heran.
Ferdi adalah mantan kekasih vanesa. Dan reza adalah teman seangkatannya dulu waktu SMA.
“ Nyamperin loe. Gue memutuskan pindah kampus. “
“ Pindah kampus?”
“Iya.. Pindah kampus. Gue pindah karena ada alasan.”
“ Oke gak akn gue Tanyakan alasan loe pindah sini. Tapi gue mau Tanya maksud loe apa tadi? Sadar tentang apa?”
“ Ya loe sadar nggak dengan sikap loe itu?”
“ sikap gue?”
“ memangnya kenapa sikap gue? Masalah buat loe?”
“ Nggak juga. Hanya saja masalah buat vanesa. Loe pasti mengira bahwa sikap loe itu udah benar kan? Coba lihat sekarang! Loe yang pusing sendiri karena vanesa dan sahabat-sahabat loe.”
“ Bagaimana loe tahu?”
“ Apa sih yang nggak gue tahu tentang loe ataupun vanesa?” ferdi tersenyum sinis. Matanya menahan amarah yang dirasanya sudah ingin diluapkan dihadapan reza.
“ Loe memata-matai kami?” Reza agak geram.
“ Nggak. Gue hanya tidak mau loe nyakitin cewek yang masih gue sayang. Dan cewek itu adalah vanesa.”
“ Atas dasar apa loe nyampurin urusan gue?”
“ Atas dasar cinta gue ke dia. Apa loe nggak sadar kalau selama ini loe hanya menyakitinya? Loe slalu sibuk dengan urusan loe sama sahabat-sahabat loe itu. Gue perhatiin vanesa akhir-akhir ini sering diam dan murung sendiri. Apa loe tahu itu? Nggak kan?” ferdi mulai meluapkan emosinya. Tapi reza justru  bengong.
“ Tapi sekarang gue selalu kasih waktu buat dia. Dan dia bahagia-bahagia aja.”
“ Hey..! Loe pikir dong! Mau sampai kapan loe seperti ini terus? Mau sampai loe kehilangan sahabat-sahabat loe yang nggak pengertian itu? Atau justru sampai loe bosan karena sikap vanesa yang cemburu dengan waktu loe saat bersama sahabat loe?!”
“ Gue… “
“ Gue apa? Gue harap loe bisa bijak dalam masalah ini. Gue yakin, lama-lama loe akan melepaskan vanesa karena sahabat loe. Gue saranin aja, daripada loe sakitin dia lebih jauh lagi. Lebih baik, loe lepasin dia sekarang. Dan gue akan bahagiain dia jauh lebih dari yang loe kasih ke dia.”
“ Apa?! Loe gila?! Gue cinta sama nesa! Dan gue nggak mungkin melepaskan dia begitu aja. Apalagi buat cowok kaya’ loe!”
“ terserah deh loe mau bilang apa soal gue. Yang jelas, gue nggak akan ngebiarin loe  bersikap seenaknya ke nesa. Gue akan dapetin hatinya kembali. Kita lihat saja, siapa yang berhasil membahagiakannya. Gue…. Atau.. Loe !”
Ferdi menghilang dari pandangan reza. Reza hanya terduduk lemas setelah berdebat dengan ferdi. Apa yang dikatakan ferdi memang benar. Bahwa dia sampai saat ini belum membahagiakan vanesa dan hanya menyakiti perasaannya. Tapi dia tidak akan menyerah begitu saja untuk hubungan yang sudah terjalin selama setahun ini.
“ Gue akan buktikan fer, gue yang jauh lebih baik buat nesa.” Gumam reza.
Langit yang menggelap menyiratkan hasrat kantuk yang begitu dalam. Tubuh yang mulai melemah dan fikiran yang mulai goyah membuat gadis cantik seperti vanesa terkapar dikamarnya. Sambil memegangi handphone kesayangannya, dia mulai memutar playlist music yang paling favorite. Dan dia mulai melantunkan lagu syahdu untuk mewakili perasaannya malam itu.
“ Aku tak biasa.. Bila tiada kau disisiku. Aku tak biasa bila ku tak mendengar suaramu..” begitulah suara merdu nesa saat menyanyikan lagu mellow dari almarhumah Alda Risma yang di Recycle ulang oleh Syahrini. Sesuatu banget pokoknya.
“zzzztttt. Zzzzzzttt….zzzzzzttttttt…” Handphonenya bergetar. Vanesa berhenti bernyanyi. Lalu dia pandangi layar HPnya.
“ Satu pesan diterima. Hemmpt.. pasti dari Reza.” Sikap sotoynya alias sok tahunya kumat. Saking senangnya dia buka sms dan langsung membacanya.
“ Besok temui aku di Taman belakang kampus.” Bibirnya bergerak-gerak mengikuti setiap kata yang dia ucapkan.
“ Ini siapa?” Balas vanesa.
“ Nanti kamu juga akan tahu.”
“Aku tidak suka menemui orang yang tidak aku kenal.” Balasnya lagi.
“ Kamu sangat mengenalku. Yang penting besok temui aku dulu.”
“kasih tahu dulu siapa kamu.”
Vanesa menunggu balasan lagi dari orang misterius itu. Tapi tak ada balasan juga. Hati vanesa jadi tidak tenang. Dia begitu penasaran dengan  orang ini. Tapi dia takut jika menemuinya justru orang itu adalah orang jahat.
“ Apa aku harus menemuinya?” Batinnya resah. Resa memegangi kepalanya yang mulai terasa pening. Rambutnya yang tergerai diacak-acaknya hingga seberantakan mungkin. Sms itu benar-benar membuatnya bingung bukan main.
Keesokan harinya, dia berangkat kuliah sendirian. Biasanya dia berangkat bersama temannya. Tapi temannya sedang tidak enak badan. Sehingga terpaksa harus absen kuliah.
“ Aduh… sendirian dan sepi. Mana nggak ad angkot lagi.” Keluhnya kesal.
Vanesa memang termasuk orang yang moody. Saat suasana hatinya sedang tidak baik alias bad mood, apapun yang dilakukannya akan terasa melelahkan dan membosankan. Dan pasti dia akan marah-marah sendiri gak jelas.
“ Bareng yuukkk…” Tanpa permisi seseorang telah berhenti tepat disampingnya dengan Motor Ninja merahnya.
Vanesa terkejut dengan kedatangan orang itu secara tiba-tiba. Matanya meloto setelah mengetahui bahwa orang itu adalah ferdi, mantan kekasihnya.
“ Ferdi? Bagaimana kamu ada disini? Bukankah kamu kuliah diluar kota?” 
Ferdi hanya tersenyum tanpa menjawab apapun.
“ Pertanyaan,u aku jawab nanti saja. Sekarang naik. Aku antar kamu sampai kampus. Dengar-dengar hari ini ada ulangan loh.”
“ Ulangan??” Vanesa mencoba mengingat-ingat. “ Astgahfirullah… Iya, hari ini ada ulangan. Mampus!  Aku lupa dan belum belajar.”
“ makanya.. sekarang aku antar  kamu biar kamu cepet sampai. Lebihbaik nggak belajar daripda kamu nggak ikut Ulangan kan?”
“ Iya sih. Tapi…”
“ Tapi kenapa? Kamu nggak mau boncengan sama aku karena takut Reza melihatnya?”
“ Emmmpt itu….”
“ Udahlah nes.. Dia dikampus lain. Dia nggak bakal lihat kok. Yang penting kamu bisa ikut ulangan.”
“ Ya sudah deh. Tapi aku mau bukan karena kamu ya? Jadi kamu jangan GR.” Nesa menodongkan jari telunjuknya ke muka ferdi. Ferdi mengerutkan keningnya lalu mengantarkan nesa menuju kampusnya.
Sesampainya dikampus, Nesa langsung meninggalkan ferdi begitu saja tanpa mengucapkan terimakasih. Ferdi kesal melihat tingkah nesa yang berubah jutek padanya semenjak mereka putus.
“ Bilang terimakasih kek. Main pergi aja..” Gerutu ferdi. Diapun pergi entah kemana seakan terbawa angin dan menghilang.
****
“ Bengong aja loe!” Nanda mengagetkan nesa yang sedang asyik melamun. Nesa memanyunkan bibirnya dan mulai mendesah.
“ Ahhhh!! Kau ini nda. Gue lagi gak mood you know?”
“ I Know bebh. Terlihat tuh dari muka kucel loe? Kenapa lagi? Reza lagi?”
“Reza darimananye? Gue lagi nggak mau mikirin itu. Gue sama Reza lagi break dulu karena dia lagi sibuk sama sahabat-sahabatnya.”
“Terus? Kenapa muka loe kaya kambing congek gitu? Hahaha…”
“ Nggak lucu tahu nda. Gue lagi mikirin sesuatu. Ada yang ngajal ketemuan sama gue. Tapi gue nggak tahu dia siapa.” Nesa mengacak-acak rambutnya.
“ terus lo mau temuin dia?”
“ nggak tahu deh nda. Gue bingung. Dia memaksaku buat temuin dia. Tapi gue nggak mau. Gue anti ketemu orang yang nggak gue kenal.”
“ Ya sudah ngga usah loe pikirin lagi. Mending nggak usah temuin dia. Ntar yang ada malah jadi masalah buat loe. Sekarang, loe hubungi saja reza. Ajak ketemuan. Kali aja dia mau.”
“ Ahh… tensin gue ajak dia. Biar dia aja yang sms gue dan ngajakin gue.”
“ Loe tuh jadi orang tensin mulu. Sekali-kali loe ngalah.”
“ tapi..”
“ udah.. nggak ada tapi-tapian.”
“ Oke deh miss crewet..” Nesa mengambil handphonenya dan mulai mengetik bebrapa kata untuk reza.
“ Kita ketemuan yuukks…”
“ Oke.. dimana?”
“ Ditempat biasa..”
“ Sieeep.. ntar aku jemput kamu.”
“ Oke.”
Nesa memasukkan lagi handphonenya kedalam tas pink kesayangannya.
“ Gimana sa?”
“Hemmpt.. Dia mau nda!!!!! Gue seneng banget :D”
“ Tuh kan? Apa gue bilang. Sekarang kita pulang dan loe siap-siap deh buat ketemu ma dia.”
“ Oke deh miss crewet :D. Makasih ya sarannya :D. Loe memang sahabat gue yang paling baik.”

_ BERSAMBUNG_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar