Selasa, 22 Mei 2012

CINTA TAKKAN SALAH ( Lanjutan 1 )


Tiga puluh menit sudah nesa dan reza saling bungkam. Hanya ada tatapan mata yang syahdu. Entah alas an apa yang membuat mereka tak bicara sepatah katapun.
“Emmmmpt…. Nes..” Ucap reza membuka obrolan.
“ Iya…”
Apa gue Tanya dia ya soal ferdi? Batin reza bimbang. Reza menunduk dan diam sejenak.
Nesa bingung melihat sikap reza yang sedikit aneh. Tidak seperti biasanya reza Nampak segelisah itu.
“ Kamu kenapa syang?” Tanya nesa dengan lembutnya.
“ Aku boleh Tanya sesuatu padamu?”
“ Iya boleh. Tanya apa?”
“ Kamu bertemu dengan ferdi?”
Mata nesa langsung melotot mendengar pertanyaan reza. Bibirnya bergetar dan jantungnya berdetak kencang. Dia takut jika reza telah melihat dia membonceng ferdi tadi.
“Jangan-jangan dia melihat aku sama ferdi.” Gumamnya dalam hati.
“Nes?” reza memanggilnya setelah melihat nesa diam dan bengong saja tidak menjawab pertanyaannya.
“ Em… i..iya… Knpa?” sahutnya dengan gugup.
“ Kok kenapa?”
“ Emm maksudku, kenapa kamu tanyain itu ke aku?”
“Kemarin aku bertemu dengannya.”
“ Apa? Kamu sudah bertemu dengannya?”
“ Iya.. kemarin. Dan dia…..” Reza tidak melanjutkan kata-katanya.
“ Dan dia apa sayang?”
“ Tidak apa-apa.” Reza kembali diam dan menunduk. Dalam hatinya dia sangat takut jika ferdi benar-benar akan merebut nesa darinya.
“ Sayang.. sebenarnya tadi aku sudah bertemu dengannya.” Kata nesa dengan suara tertahan.
“ Tadi?! Lalu…” Reza sedikit terkejut.
“ Dia anterin aku ke kampus. Maafin aku sayang. Tapi.. aku mau karena tadi ada urusan mendadak.”
“ Jadi tadi kalian sudah pergi bareng? Dan aku tidak tahu? Bagus… “ Reza mulai menampakkan aura kemarah diwajahnya. Nesa jadi takut jika reza akan memarahinya atau tiba-tiba minta putus.
“ Sayang.. maafin aku. Aku mau karena tadi aku mendadak ada ulangan. Karena tadi aku jalan kaki dan takut terlambat, akhirnya aku mau dianter sama dia. Tapi demi ALLAH, aku melakukan itu bukan karena alasan lain. Kamu percaya kan sama aku?” Nesa menatap lekat-lekat mata reza. Mata nesa yang terlihat berbinar-binar dan penuh dengan kejujuran itu akhirnya membuat reza luluh.
“Kamu harus hati-hati sama dia sayang.”
“ Kenapa? Dia tidak menyakitiku.”
“ Iya.. dia memang tidak menyakitimu, tapi dia akn menyakitiku dengan merebutmu dariku.”
“Kenapa kamu berkata sperti itu? Aku kan tidak mencintainya lagi. Kamu yang aku cintai. Dan aku tidak akan pernah mau kembali padanya.”
“Aku tahu kamu tidak mencintainya. Tapi bukan untuk besok-besok. Kamu tahu, aku tidak selalu ada waktu buat kamu. Bahkan mungkin, kamu belum bahagia bersamaku karena kesibukanku. Aku juga tidak selalu kasih perhatian ke kamu. Aku tahu lama-lama kamu pasti akan jenuh, dan dia akan manfaatin keadaan kita untuk semakin membuat kita jauh.”
“ Nggak sayang.. Seusaha apapun dia untuk memberikan aku perhatian lebih, dia tidak akan bisa merebut hatiku lagi. Dan tidak akn aku biarkan sayang. Karena hanya kamu yang akan terus aku jadikan orang special yang menempati seluruh ruang hatiku.”
Mendengar jawaban nesa, reza langsung memeluknya dengan erat. Seakan tidak mau melepasnya. Perasaan takut tetap masih melekat dihati reza. Tapi dia sangat percaya jika hati nesa tidaklah semudah itu untuk berubah dan berpaling.
“ Aku sangat mencintaimu nesa.”
“ Aku juga…”
Suasana romantic kembali mereka ciptakan. Setelah semua waktu tersita untuk kesibukan mereka, sekarang seakan kembali lagi. Dan hujan gerimispun menjadi saksi kebahagiaan mereka berdua.
Dari kejauhan terlihat sosok lelaki yang sedang menyaksikan kebahagiaan nesa dan reza. Dia adalah ferdi. Wajahnya merah dan penuh amarah. Tangannya menggenggam erat dan kuat seakan ingin menghantam sesuatu. Kemesraan yang dilakukan mereka berdua membuat hatinya terbakar.
“Gue harus samperin mereka berdua.” Pikir ferdi licik.
Ferdi lalu berjalan mendekati nesa dan reza yang sedang asyik bercanda. Dengan gaya sok coolnya, ferdi langsung duduk diantara nesa dan reza.
“ Hay guys!!”
Reza dan nesa kaget dengan kedatangannya yang secara tiba-tiba dan mengganggu kesenangan mereka.
“ Ferdi?!” serentak reza dan nesa.
“ Akhirnya ketemu kalian juga.”
“ Apa-apaan sih lo fer!” ucap reza kesal.
“Ya gue mau ngobrol bareng loe berdua. Udah lama kan kita nggak ngobrol? Iya nggak nes?”
Nesa hanya diam saja tidak menanggapi kata-kata ferdi.
“ Ngapain sih dia kesini? Merusak keadaan aja.” Batin reza kesal.
“ Ya ALLAH.. kenapa dia harus datang diwaktu yang tidak tepat? Semoga dia tidak berulah.” Batin nesa khawatir.
“ Kalian kenapa sih? Kaya’ baru saja lihat setan aja. Relax aja kenapa? Nggak usah pada bertampang syok gitu.”
“ Ya memang ada setan kok..” Gumam reza lirih.
“ Apa kata loe rez?” Tanya ferdi.
“ Nggak.. nggak kenapa-kenapa kok. Barusan ada lalat dihidung gue.”
“Emmpt sayang… Kita jalan-jalan lagi yuk?” Reza langsung berdiri dan menarik tangan nesa.
“ I.. Iya sayang..”
“ Kalian mau kemana?”
“Mau pergi. Kenapa? Ada masalah?” reza melotot.
“ Eh.. tidak kok.”
“ Ya sudah kalau gitu. Yuk sayang… mumpung sudah tidak gerimis lagi.” Reza merangkul pinggang nesa. Dan nesa membalas rangkulannya. Hati Ferdi semakin panas melihat mereka berdua. Reza memang sengaja merangkul nesa dihadapannya, supaya ferdi tidak coba-coba mendekati nesa lagi dan mengira bahwa hubungan mereka tidak baik-baik saja.
“ Awas saja rez, sekarang kalian bisa so sweet-so sweetan dihadapan gue. Tapi nggak buat besok. Kita lihat saja siapa yang akan menang.”
                                                      ****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar