Tiga puluh menit
sudah nesa dan reza saling bungkam. Hanya ada tatapan mata yang syahdu. Entah alas
an apa yang membuat mereka tak bicara sepatah katapun.
“Emmmmpt…. Nes..”
Ucap reza membuka obrolan.
“ Iya…”
Apa gue Tanya dia
ya soal ferdi? Batin reza bimbang. Reza menunduk dan diam sejenak.
Nesa bingung
melihat sikap reza yang sedikit aneh. Tidak seperti biasanya reza Nampak segelisah
itu.
“ Kamu kenapa
syang?” Tanya nesa dengan lembutnya.
“ Aku boleh Tanya
sesuatu padamu?”
“ Iya boleh.
Tanya apa?”
“ Kamu bertemu
dengan ferdi?”
Mata nesa
langsung melotot mendengar pertanyaan reza. Bibirnya bergetar dan jantungnya
berdetak kencang. Dia takut jika reza telah melihat dia membonceng ferdi tadi.
“Jangan-jangan
dia melihat aku sama ferdi.” Gumamnya dalam hati.
“Nes?” reza
memanggilnya setelah melihat nesa diam dan bengong saja tidak menjawab
pertanyaannya.
“ Em… i..iya…
Knpa?” sahutnya dengan gugup.
“ Kok kenapa?”
“ Emm maksudku,
kenapa kamu tanyain itu ke aku?”
“Kemarin aku
bertemu dengannya.”
“ Apa? Kamu sudah
bertemu dengannya?”
“ Iya.. kemarin.
Dan dia…..” Reza tidak melanjutkan kata-katanya.
“ Dan dia apa
sayang?”
“ Tidak apa-apa.”
Reza kembali diam dan menunduk. Dalam hatinya dia sangat takut jika ferdi
benar-benar akan merebut nesa darinya.
“ Sayang..
sebenarnya tadi aku sudah bertemu dengannya.” Kata nesa dengan suara tertahan.
“ Tadi?! Lalu…”
Reza sedikit terkejut.
“ Dia anterin
aku ke kampus. Maafin aku sayang. Tapi.. aku mau karena tadi ada urusan
mendadak.”
“ Jadi tadi
kalian sudah pergi bareng? Dan aku tidak tahu? Bagus… “ Reza mulai menampakkan
aura kemarah diwajahnya. Nesa jadi takut jika reza akan memarahinya atau
tiba-tiba minta putus.
“ Sayang..
maafin aku. Aku mau karena tadi aku mendadak ada ulangan. Karena tadi aku jalan
kaki dan takut terlambat, akhirnya aku mau dianter sama dia. Tapi demi ALLAH,
aku melakukan itu bukan karena alasan lain. Kamu percaya kan sama aku?” Nesa
menatap lekat-lekat mata reza. Mata nesa yang terlihat berbinar-binar dan penuh
dengan kejujuran itu akhirnya membuat reza luluh.
“Kamu harus
hati-hati sama dia sayang.”
“ Kenapa? Dia
tidak menyakitiku.”
“ Iya.. dia
memang tidak menyakitimu, tapi dia akn menyakitiku dengan merebutmu dariku.”
“Kenapa kamu
berkata sperti itu? Aku kan tidak mencintainya lagi. Kamu yang aku cintai. Dan aku
tidak akan pernah mau kembali padanya.”
“Aku tahu kamu
tidak mencintainya. Tapi bukan untuk besok-besok. Kamu tahu, aku tidak selalu
ada waktu buat kamu. Bahkan mungkin, kamu belum bahagia bersamaku karena
kesibukanku. Aku juga tidak selalu kasih perhatian ke kamu. Aku tahu lama-lama
kamu pasti akan jenuh, dan dia akan manfaatin keadaan kita untuk semakin
membuat kita jauh.”
“ Nggak sayang..
Seusaha apapun dia untuk memberikan aku perhatian lebih, dia tidak akan bisa
merebut hatiku lagi. Dan tidak akn aku biarkan sayang. Karena hanya kamu yang
akan terus aku jadikan orang special yang menempati seluruh ruang hatiku.”
Mendengar jawaban
nesa, reza langsung memeluknya dengan erat. Seakan tidak mau melepasnya. Perasaan
takut tetap masih melekat dihati reza. Tapi dia sangat percaya jika hati nesa
tidaklah semudah itu untuk berubah dan berpaling.
“ Aku sangat
mencintaimu nesa.”
“ Aku juga…”
Suasana romantic
kembali mereka ciptakan. Setelah semua waktu tersita untuk kesibukan mereka,
sekarang seakan kembali lagi. Dan hujan gerimispun menjadi saksi kebahagiaan
mereka berdua.
Dari kejauhan
terlihat sosok lelaki yang sedang menyaksikan kebahagiaan nesa dan reza. Dia adalah
ferdi. Wajahnya merah dan penuh amarah. Tangannya menggenggam erat dan kuat
seakan ingin menghantam sesuatu. Kemesraan yang dilakukan mereka berdua membuat
hatinya terbakar.
“Gue harus
samperin mereka berdua.” Pikir ferdi licik.
Ferdi lalu
berjalan mendekati nesa dan reza yang sedang asyik bercanda. Dengan gaya sok
coolnya, ferdi langsung duduk diantara nesa dan reza.
“ Hay guys!!”
Reza dan nesa
kaget dengan kedatangannya yang secara tiba-tiba dan mengganggu kesenangan
mereka.
“ Ferdi?!”
serentak reza dan nesa.
“ Akhirnya
ketemu kalian juga.”
“ Apa-apaan sih
lo fer!” ucap reza kesal.
“Ya gue mau
ngobrol bareng loe berdua. Udah lama kan kita nggak ngobrol? Iya nggak nes?”
Nesa hanya diam
saja tidak menanggapi kata-kata ferdi.
“ Ngapain sih
dia kesini? Merusak keadaan aja.” Batin reza kesal.
“ Ya ALLAH..
kenapa dia harus datang diwaktu yang tidak tepat? Semoga dia tidak berulah.”
Batin nesa khawatir.
“ Kalian kenapa
sih? Kaya’ baru saja lihat setan aja. Relax aja kenapa? Nggak usah pada
bertampang syok gitu.”
“ Ya memang ada
setan kok..” Gumam reza lirih.
“ Apa kata loe
rez?” Tanya ferdi.
“ Nggak.. nggak
kenapa-kenapa kok. Barusan ada lalat dihidung gue.”
“Emmpt sayang…
Kita jalan-jalan lagi yuk?” Reza langsung berdiri dan menarik tangan nesa.
“ I.. Iya
sayang..”
“ Kalian mau
kemana?”
“Mau pergi. Kenapa?
Ada masalah?” reza melotot.
“ Eh.. tidak
kok.”
“ Ya sudah kalau
gitu. Yuk sayang… mumpung sudah tidak gerimis lagi.” Reza merangkul pinggang nesa.
Dan nesa membalas rangkulannya. Hati Ferdi semakin panas melihat mereka berdua.
Reza memang sengaja merangkul nesa dihadapannya, supaya ferdi tidak coba-coba
mendekati nesa lagi dan mengira bahwa hubungan mereka tidak baik-baik saja.
“ Awas saja rez,
sekarang kalian bisa so sweet-so sweetan dihadapan gue. Tapi nggak buat besok. Kita
lihat saja siapa yang akan menang.”
****

Tidak ada komentar:
Posting Komentar