YUNIKE SUNDARI
KU kernyitkan dahiku.memikirkan apa yang sedang terjadi padaku. Pertengkaranku dengan yudha membuatku terpuruk dan gelisah. Sungguh aku tak tahu apa yang sedang terjadi padaku. Hingga aku merasa aku telah mati.
Kuangkat kakiku perlahan untuk menyusuri setiap lorong sekolah. Tidak ada siapapun. Sendirian dan sepi. Mungkin aku lupa kalau hari ini adalah hari libur. Makanya aku berangkat kekampus. Ternyata ,masalahku dengan yudha membuatku seakan hilang ingatan. Semuanya.
“ ada apa ini ?” tanyaku dalam hati. Aku berjalan lagi menyusuri koridor sekolah. Kulihat bayang-bayang samar menuju kelasku. Sangat membuatku penasaran. Aku dekati bayangan itu. Perlahan dan sangat perlahan. Sampai tidak ada suara yang timbul dari hentakan kakiku saat berjalan.
“ siapa dia ? bukankah tadi nampak sepi-sepi aja ?kenapa masih ada orang selain aku disekolah ini ?” karena semakin penasaran, aku intai bayangan cowok itu dari jendela.
Betapa terkejutnya diriku saat tahu bahwa bayangan itu adalah pacarku yudha. Dia sedang duduk berdua dengan seorang cewek berkulit putih dengan rambut panjang digerai. Dan dengan bando berwarna putih melekat dikepalanya. Suara tertawa mereka dan wajah bahagia mereka sangat nampak dalam penglihatanku.
“ Yudha ? dia sama siapa ? cewek itu siapa ?” tubuhku lemas. Kepalaku sudah tidak mampu berfikir positif lagi saat melihat kemesraan yudha dengan cewek itu.
Aku berjalan masuk kekelas. Dengan langkah tertatih. Hatiku hancur. Perasaanku hancur sekaligus pikiranku tentang yudha. Kesetiaan yang slalu dia perlihatkan padaku sudah tidak berguna lagi. Apa yang aku lihat adalah jawaban dari semuanya. Bahwa dia bukanlah cowok seperti yang pernah aku pikirkan dan orang-orang ketahui. Selingkuh. Itu yang sudah membutakan mata hatiku. Aku tak mempercayainya lagi. Apapun alasannya.
“ Yudha!” teriakku saat dia memegang tangan cewek itu dan memeluknya. Cewek yang sangat aku kenal dan sangat aku sayangi yaitu vita.
Yudha dan vita berdiri dan terkejut melihatku berada didepan mereka. Wajah mereka berubah jadi pucat. Mata mereka melotot. Syok mungkin. Harusnya aku yang merasakan hal itu. Tapi ternyata mereka juga.
“ Ajeng ?” serentak mereka mengucapkan namaku yang indah itu.
Airmataku menetes. Tubuhku bergetar. Nafasku tersendat dan kepalaku seakan mau pecah. Aku sangat menyayangi yudha seperti aku menyayangi diriku sendiri. Aku mencintainya seperti aku mencintai raga dan jiwaku. Aku tak pernah sesekalipun menghianati kepercayaannya. Tapi apa yang sudah dia lakukan padaku ? kepercayaanku padanya sudah musnah. Begitupun juga kepercayaanku pada vita sahabat karibku sendiri.
Kucoba bertahan dengan kondisi seperti ini. Aku tak ingin menangis didepn mereka. Akupun tak ingin emosi dihadapan mereka. Tapi aku tak bisa. Perasaanku pada mereka telah membuatku buta akan kata maaf.
“ Jeng.. ini gak seperti yang lo lihat..” ucap yudha menjelaskan. Tapi aku tetap tidak percaya.
“ Tidak seperti yang gue lihat? Lalu tadi apa yang gue lihat ?tangan lo memegang tangannya dengan mesra. Lalu pelukan itu.. lo memeluk dia seperti saat lo memeluk gue. Lalu apa yang gue lihat barusan yudha ?! Apa!! Hanya sebuah drama gitu ? atau kalian lagi belajar akting untuk ikut audisi pemilihan pemain aktor dan aktris buat sebuah film ? Gue kecewa sama kalian berdua.. gue kecewa!!”
Aku membalikkan tubuhku. Merasakan degupan jantungku yang semakin lama semakin membuatku sesak. Airmataku tak berhenti mengalir. Kesakitan yang ku rasakan membuatku ingin pergi dari hadapan mereka.
“ Ajeng !!” teriak yudha kembali. Dia mengejarku saat ku lari. Aku tak tahan melihatnya. Aku tak kuat. Akupun tak menghiraukan panggilannya. Aku tak hiraukan dia saat mengejarku. Yang ada dalam pikiranku hanyalah kekecewaan , penghianatan dan perselingkuhan.
Aku berhenti ditengah-tengah jalan yang sepi. Aku menangis dan menutup mukaku dengan kedua tanganku. Aku sadar bahwa aku telah salah mencintainya.
Ternyata langit memahami perasaanku sekarang. Sampai-sampai langitpun ikut menangis dan membasahi tubuhku. Iya.. benar.. hujan telah berguyur dengan derasnya menemani kesedihanku.
“ Harusnya gue tau, kalau lo gak pernah mencintai gue! Harusnya gue tahu itu. Kenapa lo sakitin gue yudha ! apa salah gue ! apa !” aku menjerit sekeras-kerasnya. Berharap yudha mendengar apa yang aku katakan barusan. Dan memang benar, dia mendengar kata-kataku. Dia berhenti beberapa meter dariku. Dia mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku tak mau mendengarnya.
“ Ajeng.. dengerin dulu penjelasanku. Aku sama vita gak ada apa-apa. Kita hanya..”
“ Udah STOOPPPP!!! Jangan pernah lo bicara lagi ke gue yudha. Lo udah hancurin semuanya ! perasaan gue, kebahagiaan gue, kepercayaan gue yang udah gue kasih ke lo ! Lo udah menghancurkannya. Dan gue kira , kita sudah tidak ada hubungan apapun mulai sekarang. Gak ada.. jadi gue mohon jangan ganggu hidup gue lagi..”
“ Tapi jeng.. lo salah paham. Ini gak seperti yang lo pikirkan. Lo salah paham ajeng!”
“ Gak yudha ! tadi sudah cukup buat gue tahu. Jika lo hanya mempermainkan gue. Iya kan ! Please yudha, jangan membuat gue tambah sakit.. sudah cukup semuanya.. kita ahiri sekarang. Karena gue tak mau lagi denganmu..”
Vita muncul dan ikut menjelaskan permasalahn tadi. Aku tetap kekeh dengan penglihatanku bahwa mereka selingkuh. Vita menangis dan merengek. Berharap aku percaya setiap kata yang dia ucapkan. Tapi tidak untuk kali ini. Aku tak mau percaya siapapun yang sudah menghianatiku. Aku tahu kita adalah sahabat. Tapi penghianat tetap penghianat. Aku takkan pernah memaafkan orang yang menyakitiku. Sekalipun orang itu adalah orang-orang yang sangat aku sayangi dan aku cintai.
“ Jangan pernah ganggu hidup gue lagi.. gue gak mau melihat kalian berdua lagi.. gak akan !! dan gue harap ini adalah yang terakhir gue lihat kalian berdua.. jadi jangan pernah mencoba membawa gue kembali..”
“ Gak ajeng.. gue akan tetap menjelaskan ke lo kalau gue memang gak ada hubungan apa-apa dengan yudha. Gue mohon lo percaya sama gue jeng. Gue mohon..”
“ Maaf vita.. lo salah kalau lo bisa bohongi gue lagi. Gue bukan anak kecil yang bisa dibohongi terus-menerus. Hati gue udah terlanjur sakit dengan kalian. Gue gak akan pernah maafin kalian, sekalipun gue mati..”
Aku mencoba menahan rasa perih dihati saat aku tinggalkan mereka. Mereka memanggil-manggil namaku. Entah kenapa aku tidak tahu. Aku tidak memperhatikannya dan tak mau mendengarnya. Sampai akhirnya aku sadar bahwa dari arah samping ada sebuah mobil mercy berwarna hitam melaju dengan kecepatan sangat tinggi menuju kearahku tanpa berbelok. Mungkin karena hujan terus licin atau karena apa aku gak tahu. Tapi seketika itu juga, tubuhku terhempas jauh dan kepalaku terbentur batu hingga membuat kepalaku berdarah.
Yudha dan vita langsung menghampiriku. Aku tak bisa membalikkan badanku. Tubuhku sudah terlalu lemah untuk melakukan itu. Penglihatanku juga kabur. Aku tak bisa melihat jelas apa yang ada dihadapnku.
“ Ajeng..!! Ajeng..!!!” suara teriakan mereka memanggil-manggil namaku sedikit terdengar ditelingaku. Aku ingin menjawab. Tapi mulutku seakan terkunci. Aku tak bisa. Pasrah.
Setelah kejadian itu, aku tak tahu apa yang sudah terjadi padaku. Tapi saat ku buka mataku, kudapati diriku dikamarku. Sedang terbaring. Seperti baru saja tidur terlelap.
Ternyata aku masih berpakaian seragam. Tas, sepatu dan semuanya masih melekat ditubuhku.
“ Bukankah tadi gue habis kecelakaan ? lalu kenapa gue masih berpakaian seperti ini?” batinku aneh.
Aku beranjak dari tempat tidur lalu aku turun kebawah melihat situasi dirumah. Apakah barusan aku sedang bermimpi? Ku tepuk-tepuk kedua pipiku. Sepertinya sakit. Tapi.. benar-benar aneh. Aku bahkan tak ingat sebelum ku tertidur dikamar, apa yang sudah aku lakukan.
“ Ma!! Mama!.. ma..ma!! “ aku berteriak memanggil-manggil mama. Tapi gak ada sahutan sama sekali. Aku pergi kekamarnya. Gak ada siapapun. Termasuk papa. Biasanya jam segini papa pergi kekantornya. Jadi wajar kalau papa gak ada dirumah. Tapi mama ? tumben-tumbennan gak ada dirumah. Gak bilang-bilang lagi. Bibi juga gak ada.
“ Hufht.. pada kemana sih kok gak ada ?” gue lihat hari ini hari apa. “Astaghfirullah.. ini kan hari senin. Gue harus berangkat sekolah.. aduhh.. payah banget sih gue. Sampai kelupaan hari gini. “
Cepat-cepat aku bergegas kesekolah. Tanpa harus memkai seragam atau sepatu lagi. Meskipun hari ini rasanya aneh, tapi aku tetap berfikir positif saja. Aku berjalan menuju sekolah tanpa menggunakan sepeda motor maupun mobil. Karena semuanya tidak ada dirumah. Mungkin sedang dipakai.
Mau pakai angkot juga kagak ada yang berhenti-henti saat aku teriakin. Ya sudah. Dengan sangat terpaksa akupun berjalan kaki. Meski membutuhkan waktu 15 menitan lah supaya sampai disekolah. Tapi ini sudah siang. Pasti kalau aku terlambat, aku bakalan dimarahin sama bu guru, fikirku gelisah.
Aku tetap berjalan dengan sepenuh tenaga menyusuri jalan raya yang lumayan sepi itu. Andai saja aku bisa cepat sampai disekolah. Baru juga beberapa menit aku berkata seperti itu, eh tau taunya aku sudah ada didepan pintu sekolah.
“Lowh.. bukannya tadi aku masih jauh ya dari sekolah ? kok aku sudah ada disini ? apa tadi jalanku saking cepatnya kali ya ? sampai-sampai aku tidak sadar kalau sudah dekat dengan sekolahku.” Gumamku lirih.
Kulihat penjaga sekolah sedang duduk dipos satpam. Biasanya jika melihatku, dia menyapaku. Tapi kok sekarang tidak ? dia cuek saja melihatku.
“ ahh.. sudahlah.. gak penting juga disapa pak satpam.. “ batinku kesal.
Aku berjalan menuju kelasku. Suasana sekolah sudah hening. Itu artinya pelajaran sudah dimulai. Aku pasti terlambat. Aku harus bergegas.
Sesampainya didepan kelas, ternyata benar dugaanku, aku sudah benar-benar terlambat. Bu guru yang sangat aku takuti sudah ada didepan kelas. Mungkin sedang menerangkan. Tapi kali ini aku mendengar sedikit pengumuman dari beliau.
“ Anak-anak sekalian.. sebelum kita melanjutkan pelajaran kita, mari kita doakan teman kalian yang sedang terkena musibah. Semoga teman kalian bisa sembuh seperti sedia kala. Karena saat ini keadaan dia sedang dalam kondisi koma. Menurut kepercayaan masing-masing, berdoa dimulai.”
Semua anak menunduk. Mulai mengucapkan doa-doa untuk orang yang sedang sakit sekarang. Aku penasaran siapa orang yang sedang sakit itu. Kulihat yudha dari balik jendela. Wajah dia lesu, pucat dan nampak sekali kalau dia sangat sedih. Kulihat juga vita yang duduk disamping tempat dudukku. Dia menangis terisak-isak saat berdoa.
“ heran deh.. kok mereka sampai segitunya sih ? memangnya siapa yang sakit ? siapa yang koma ?” aku bingung dan gak tahu mau bertanya sama siapa. Karena saat aku mencoba memanggil vita ataupun yudha, mereka seperti tidak mendengar sedikitpun panggilanku.
Karena aku bosan menunggu pergantian jam. Aku juga takut kalau nanti bu guru mendapatiku sedang duduk santai didepan kelas, aku bisa dihukum berat. Lalu kutinggalkan kelasku dan sekolahku. Untung ada pintu keluar dari belakang. Jadi aku bisa keluar dari sekolah tanpa sepengetahuan pak satpam.
“ Kenapa ya ? hari ini rasanya sangat aneh. Dirumah gak ada siapa-saiapa. Disekolah malah ada pengumuman yang menyedihkan seperti itu. Ditambah lagi gue harus terlambat berangkat sekolah. Sepertinya hari ini bukan hari yang indah buat gue.”
Ku pegang kalung pemberian yudha. Kalung berbentuk keong yang dia berikan sebagai tanda cinta saat pertama kali kita jadian. Karena kalung itulah, aku selalu dipanggil yudha dengan sebutan Putry keong. Nama yang lucu bukan ? iya lucu sekali. Aku sangat senang dia memanggilku begitu.
“ Yudha.. Sebenarnya apa yang sedang terjadi pada kita ? pertengkaran itu. Perselingkuhan itu. Apakah hanya mimpi gue? tapi rasanya hati gue sangat sedih saat ini. Gue sangat merindukan lo yudha. Hufht.. apakah loe rasain hal yang sama ke gue ?”
Aku sandarkan tubuhku dikursi taman dekat sekolah. Aku merenung disana. Berharap waktu cepat berputar. Sehingga sepulang sekolah aku bisa menemui yudha dan bertemu dengannya.
****
sering-sring mampir diakunku yah ?? http://www.facebook.com/profile.php?id=100001000693458&ref=tn_tnmn

maaf jika postingan dan isi cerita kurang berkesan.,, :')
BalasHapus